Jumat, 28 Oktober 2011

Belajar Semangat Bodhisattva Vajrasattva

(Ceramah Buddha Hidup Lian Sheng di Rainbow Temple Usai "Upacara Homa Vajrasattva" Tanggal 8 Juni 2008)


Sembah sujud pada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zhengkong, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, sembah sujud pada Triratna Mandala. Para acarya, dharmacarya, lama, umat se-Dharma, selamat siang semuanya. (Hadirin tepuk tangan)

Hari ini yang kita adakan adalah "Homa Vajrasattva", tatacaranya dari awal hingga akhir sangat lengkap, tidak ketinggalan detil apapun. Makanya, homa Vajrasattva kita sangat sempurna. (Hadirin tepuk tangan)

Perintis Tantra adalah Vajrasattva. Mengapa Vajrasattva adalah perintis? Sebab, dulu saat Bodhisattva Nagarjuna membuka pagoda besi di Hindustan Selatan, di dalamnya adalah Vajrasattva. Vajrasattva boleh dikatakan mentransmisikan seluruh Dharma Vajradhatu dan Garbhadhatu kepada Bodhisattva Nagarjuna. Jadi, Vajrasattva berarti guru Bodhisattva Nagarjuna. Berkat Bodhisattva Nagarjuna membuka pagoda besi dan memperoleh Dharma Tantra langsung dari Vajrasattva, Dharma Tantra baru mulai disebarluaskan. Jadi, Vajrasattva adalah perintis ajaran Tantra. Ketika Guru Thubten Dhargye masih hidup, suatu kali saya menemui Guru Thubten Dhargye, Beliau membawa sebuah stupa Buddha, di dalamnya ada Vajrasattva, Beliau pun memberikan stupa Buddha ini pada Gurudhara. Beliau berkata, "Kadang-kadang, Anda beranjali pada-Nya, di dalamnya adalah perintis Tantra -- Vajrasattva."

Kita tahu bahwa di dalam Agama Buddha terdapat banyak Mahasattva, pertama adalah "3 Yidam Sukhavati", "3 Yidam Sukhavati" terdiri dari "Buddha Amitabha, Bodhisattva Avalokitesvara, dan Bodhisattva Mahasthamaprapta", di antara "3 Yidam Sukhavati", Bodhisattva teragung adalah Bodhisattva Avalokitesvara. Dan "3 Yidam Avatamsaka" di dalam "Sutra Avatamsaka" terdiri dari "Namo Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Manjushri, dan Bodhisattva Samanthabradha". Di antara "3 Yidam Avatamsaka", Bodhisattva teragung adalah Bodhisattva Manjushri. Dan "3 Yidam Tantra" terdiri dari "Bodhisattva Vajrapani, Bodhisattva Vajracitta, dan Bodhisattva Vajrasattva", ketiga yidam ini termasuk bodhisattva teragung dalam Tantra, ketiga yidam ini digabungkan, itulah Vajrasattva.

Wujud Vajrasattva ini adalah Vajrasattva Sambhogakaya; satu lagi adalah Vajrasattva yidam Dharmapala, yakni Vajrapani -- Bodhisattva Vajrapani, Ia termasuk yidam Dharmapala; satu lagi adalah Vajracitta, yakni yang namanya Bodhisattva Vajracitta, yakni Bodhisattva Dharmadhatu, Ia sendiri termasuk bodhisattva Dharmakaya. Dengan kata lain, Bodhisattva Dharmakaya, Bodhisattva Sambhogakaya, dan Bodhisattva Nirmanakaya, bila ketiganya digabungkan bisa disebut sebagai Vajrasattva. Jadi, bodhisattva yang teragung di dalam Tantra adalah Bodhisattva Vajrasattva.

Kita tahu, Agama Buddha memiliki tiga Mahasattva, satu mewakili "welas asih", yakni Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Avalokitesvara adalah simbol "welas asih" terbesar; Bodhisattva Manjushri adalah simbol "kebijaksanaan" terbesar; Vajrasattva adalah Dharmabala, merupakan simbol kekuatan terbesar. Jadi, hari ini kita menjelaskan tiga Mahasattva--"Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Manjushri, dan Vajrasattva", semua sangat dihormati, sebab, satu melambangkan "welas asih", satu melambangkan "kebijaksanaan", satu lagi melambangkan "kekuatan", yang melambangkan kekuatan adalah Bodhisattva Vajrasattva.

Seperti Guru Thubten Dhargye, guru Tantra saya yang mana pun, sebenarnya, pusat utamanya adalah Vajrasattva. Sebab, Vajrasattva adalah titisan Buddha lima penjuru, Buddha lima penjuru sendiri bergabung dan menjadi Vajrasattva. Seterusnya, seluruh acarya Tantra kita mengenakan mahkota Pancabuddha, tangan kanan memegang Vajra Dorje, tangan kiri memegang Vajra Gantha, semuanya melambangkan titisan Vajrasattva. Sebab, Vajrasattva mentransmisikan Dharma kepada Bodhisattva Nagarjuna, sehingga Vajrasattva adalah acarya pertama, Vajracarya pertama yang paling mulia, sumber dari diri acarya. Selanjutnya, seluruh acarya sama halnya dengan titisan Vajrasattva. Di dalam Tantra, Anda seharusnya berpikiran demikian, Anda melihat acarya sama halnya melihat Vajrasattva, penampilannya adalah wujud Vajrasattva. Jadi, di dalam Tantra, Vajrasattva adalah guru akar.

Dini hari ini, saya meditasi sebentar, alhasil datang seseorang yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran. Dulu, orang ini pernah tinggal di Vancouver, belakangan, ia pindah ke Hawaii. Akhirnya, setelah ia meninggal dunia, abunya ditaruh di Keleteng Guandi di Tainan. Tahukah kalian siapa dia? (jawab: "Fengfeng.") Benar! Dia Fengfeng. Pagi ini, saat saya meditasi, saya bertemu Fengfeng, ia mengatakan bahwa ia punya satu rahasia yang harus diungkapkan pada saya. Saya berkata, "Semasa hidup, hubungan kita cukup baik, saat saya pergi ke Vancouver, Anda memberikan saya buku. Kita juga pernah bertemu, Gurudhara dan saya juga pernah ke rumah Anda, hubungan kami dengan ibumu juga cukup baik, segalanya sangat harmonis." Ia sering menjuluki saya "Sdr. Sheng-yen", selanjutnya memanggil saya "Y.A. Sheng-yen", atau "Bodhisattva Lian Sheng", di dalam bukunya juga memanggil demikian. Ia pernah menulis banyak surat untuk saya.

Lantas, saya bertanya padanya, "Kali ini ada urusan apa Anda menemui saya?" Ia pun berkata, ia mau memberitahu saya sebuah rahasia besar, rahasia pribadinya. Saya berkata, "Anda punya rahasia apa? Saya tahu segalanya tentang Anda, masih ada rahasia apa lagi?" Ia berkata, "Ada! Semua orang pun tahu." Saya berkata, "Bolehkah anda mengatakannya?" Sedikit saja." "Baiklah!" Ia pun menceritakan rahasianya, ia berkata, suatu tahun, ada seorang gadis dari jauh datang ke rumahnya untuk berobat, Fengfeng pun mencoba menyembuhkannya. Dulu, Fengfeng juga membantu orang lain berkonsultasi, misalnya bila ada kesulitan, orang lain menulis surat, atau mencarinya, ia pun membantu mereka. Selanjutnya? Gadis dari jauh ini berkata bahwa ia tidak membawa uang banyak, ia pun mempersembahkan uang yang dimilikinya kepada Fengfeng, hanya tinggal uang untuk tiket pesawat pulang saja. Fengfeng simpati padanya, berkata, "Begini saja, terserah saja mau memberikan berapa, di dalam rumah kecil saya itu ditinggali oleh ibu saya dan saya, ada satu rumah kecil lagi, Anda tinggal di sana saja."

Fengfeng bercerita pada saya, malamnya, wanita ini merintih kesakitan. Fengfeng berkata, tengah malam merintih kesakitan, di rumahnya hanya ada seorang ibu yang sudah lanjut usia, menurut Anda, apa yang dilakukan Fengfeng? Fengfeng terpaksa memeriksanya, begitu ia melihat Fengfeng masuk, ia pun mencengkeram tangan Fengfeng, ia berkata jantungnya berdegup kencang, seperti hampir mengembuskan napas terakhir saja, "Phong! Phong! Phong!" Berdegup kencang. Fengfeng juga tidak tahu harus bagaimana, ia pun meraba bagian jantungnya, memeriksa bagaimana degup jantungnya. Begitu dilihat, alamak, Fengfeng menghentikan ceritanya.

Saya tidak tahu apakah kalian tahu kejadian ini, mungkin kalian tidak tahu, ia berkata, ini adalah rahasianya. Setelah ia memeriksa gadis itu, tadinya tidak terjadi apa-apa. Namun, gadis itu meminta ganti rugi darinya. Fengfeng ini sangat melekat pada beberapa hal, misalnya: mengenakan baju compang-camping, hanya makan sayuran, seumur hidup sangat miskin. Gadis itu memintanya harus ganti rugi. Baiklah! Fengfeng melekat pada reputasinya, "nama" sangat penting, hari ini "nama" nya telah dihancurkan oleh gadis itu, tamatlah riwayatnya. Fengfeng juga hidup menderita sepanjang hidupnya, banyak orang menfitnahnya. Setelah terjadi masalah ini, Fengfeng berkata pada saya, ia pun ganti rugi uang, "Saya ganti rugi padanya." Saya bertanya padanya, "Anda ganti rugi berapa?" Ia mengatakan sejumlah besar uang. Saya berkata, "Fengfeng, kenapa Anda bisa punya uang? Anda tidak punya uang, kenapa Anda bisa punya uang?" Ia berkata, "Saya memang punya sedikit uang, cuma orang lain tidak tahu saja." Ia memang punya sejumlah uang, bukan tidak ada, ia ganti rugi sejumlah besar uang, wanita itu juga puas dan pergi.

Fengfeng berkata, "Selanjutnya adalah Anda." Ia berkata, "Mengapa saya?" Ia berkata, "Ia pergi ke Seattle untuk mencari Anda." Saya berkata, "Tidak ada! Tidak ada yang mencari saya!" Ia berkata, "Ada! Dialah orangnya!" Saya berkata, "Aduh! Ceritakan apa yang terjadi?" Fengfeng berkata pada saya, "Sebenarnya tidak terjadi apa-apa, tapi ia selalu mengatakan terjadi sesuatu, lantas Anda harus memberikannya uang." Saya bertanya pada Fengfeng, "Kalau tidak memberikannya uang?" Ia berkata, "Ia akan mengganggu hidup Anda." Saya bertanya pada Fengfeng, "Siapa yang Anda jumpai?" Ia berkata, "Tidak boleh dikatakan." Wah! Saya pura-pura mengerti sebentar, "OK!" Saya berkata, "Ada masalah apa lagi?" "Sekarang saya sudah menjadi seperti ini, masih ada masalah apa lagi." Ia berkata, "Sekarang, reputasi Anda lebih buruk dari saya." Reputasi saya lebih buruk darinya? Saya berkata, "Saya tidak ada reputasi! Reputasi saya tidak buruk, justru reputasi Anda yang buruk. Anda masih melekat pada reputasi, saya adalah seorang yang tidak memiliki reputasi." (Hadirin tepuk tangan) "Hari ini Anda datang menemui saya, atau ada yang Anda harapkan, saya tidak masalah." Namun, Fengfeng berkata, "Anda memang tidak masalah, namun, insan ada masalah." Saya berkata, "Tidak peduli ada masalah atau tidak, pada akhirnya tidak ada masalah." (Hadirin tepuk tangan) Fengfeng berkata, "Kalau begitu, karena Anda tidak ada masalah, saya sia-sia saja cerita pada Anda. Tidak apa-apa, kita lanjutkan membahas Buddhadharma." Saya pun melanjutkan pembahasan Buddhadharma dengannya. Kita akan uraikan lain kali.

Saya tidak pernah berpikir, Fengfeng juga menjumpai kejadian demikian. Saya tentu pernah menjumpai kejadian demikian, yang saya jumpai lebih banyak daripada Fengfeng. Saya bertanya pada Anda semua, "Saat itu, apa yang harus Anda lakukan?" Kejadian pertama, saya bertanya pada Anda, ini pernah saya jumpai. Suatu hari, saya mengadakan konsultasi di ruang konsultasi, seorang gadis datang dari jauh, bersujud dan bernamaskara pada saya, ia mengatakan bahwa ia sakit. Saya berkata, "Kalau begitu silahkan berdiri, tidak perlu bernamaskara, lalu duduk di atas kursi." Ia pun berdiri dan berkata, "Aduh! Kepala saya sangat sakit, Mahaguru tolong saya!" Saat itu, Acarya Lian Ning kebetulan tidak ada, Acarya Changzhi juga tidak ada, pintu tidak tertutup, pintu setengah tertutup, wanita itu pun mau jatuh, "Aduh! Saya pusing, mau jatuh."

Sekarang, saya bertanya pada Anda semua, "Saat itu, apa yang harus Anda lakukan?" Apakah Anda mengulurkan tangan memapahnya? Atau membiarkannya jatuh dan terdengar bunyi "Phong!"? Saya bertanya pada Anda, "Harus memapah bagian mana?" Sekarang, saya bertanya pada Anda semua, ini sebuah pertanyaan loh! Sudah pernah saya jumpai, ia berkata, "Saya mau jatuh, saya hampir pingsan." Benar-benar mau pingsan, tidak berpura-pura, agak dibuat-buat, namun, tidak kelihatan pura-pura, mirip sekali. Perawakan wanita ini malah sangat cantik, bagaimana? Kalian tidak bisa menjawabnya, kita akan uraikan lain kali. (Hadirin tertawa) Ada yang angkat tangan ("Dengan keras memanggil orang di luar untuk masuk.") Dengan keras memanggil orang di luar untuk masuk? Ia sudah jatuh, tidak sempat lagi, ibarat telur di ujung tanduk, asal tahu saja, ia mau pingsan, sampai orang di luar mau masuk, apakah sempat? Bolehkah dipapah? Saya sudah di sampingnya, ia jatuh ke arah saya." (Hadirin tertawa) Baiklah! Jangan diceritakan lagi, pokoknya, sudah berlalu.

Mahaguru menemui banyak cobaan dalam melatih diri, semua ini adalah wanita. Suatu kali, setelah saya selesai makan, kembali ke Miyuan, saya berjalan seorang diri, ada seorang gadis, ia bergegas menghampiri saya dari arah depan, ia berkata, "Mahaguru, saya ada satu pertanyaan untuk Mahaguru." Saya berkata, "Pertanyaan apa?" Ia berkata, "Mahaguru, apakah Anda benar-benar telah berhasil dalam SADHANA ANASRAVA?" Saya berkata, "Tentu benar, saya tentu benar-benar telah berhasil dalam SADHANA ANASRAVA, saya sama sekali tidak berbohong." Ia memberikan saya nomor kamar hotelnya, "Ini kamar hotel saya, dengan sangat serius saya berkata pada Mahaguru, saya harus buktikan sendiri." Sangat serius loh! Ekspresinya sangat serius! "Saya harus buktikan sendiri." Saya mengambil memonya, kembali ke kamar, lalu buang ke tempat sampah, langit tahu, seluruh makhluk halus pun tahu. Ini juga sebuah ujian. Jika Anda adalah Mahaguru, bertemu murid demikian, murid itu berambut panjang, wajahnya sangat ayu, perawakannya kelas menengah ke atas, lumayan, jika Anda adalah Mahaguru, apa yang Anda lakukan? Jadi, ujian Mahaguru sangat banyak.

Fengfeng juga ada ujian, ia berpakaian compang-camping, seakan-akan tidak mandi. Rumahnya di Vancouver juga kecil, masih ada yang memeras dan menfitnahnya. Mahaguru sendiri menyetir Bentley, berpakaian sangat mewah, tangan memakai jam tangan emas atau berlian Rolex lagi. Begitu orang lain melihat Rainbow Villa Mahaguru pun tahu, Mahaguru pasti punya sesuatu yang bagus. Namun, Mahaguru ada satu prinsip, sepeser pun tidak akan berikan, uang saya lebih penting daripada reputasi. (Hadirin terbahak)

Sepanjang hidup, ibu saya sangat hemat, ibu saya pernah berkata, "Satu uang diikat 9 simpul." Uang zaman dulu dibungkus 9 lapis, diikat 9 simpul, orang lain tidak dapat mengambilnya. Sekarang saya juga boleh beritahu ibu saya, "Saya lebih pelit daripada Anda." Namun, di masa yang akan datang, saya bisa mengeluarkan uang untuk sosial dan membantu orang lain. Jika mengeluarkan uang demi reputasi, ini tidak ada, sama sekali tidak ada. (Hadirin tepuk tangan)

Vajrasattva ini sangat penting, saya melihat dari luar, seperti emas, di dalam setahu saya, (Mahaguru bertanya, "Yang mana?" Siswa menjawab, "Milik saya, dibeli dari Taiwan, dibeli di toko alat sembahyang Lai Sanji." ) Dibeli di tempat Lai Sanji? Dari luar emas, di dalamnya sama sekali bukan emas. Tapi, pratima ini dari luar kelihatan sungguh seperti emas, di dalam pasti bukan emas. Dibeli di tempat Lai Sanji, entah punya siapa? (Jawab, "Punya Lama Lian Zhong.") Namun, beratnya hampir sama dengan emas murni, berat sekali, tapi, tentu bukan semuanya dari emas."

Kita belajar semangat Vajrasattva, yang namanya Vajra itu tidak berubah bentuk. Vajra-Nya sendiri, karena Ia sendiri tidak rusak, jadi tidak berubah bentuk. Vajra juga tidak berubah warna, warna emas murni, selamanya tidak berubah. Hari ini, Mahaguru bisa berkata demikian, hari ini kita menekuni Vajrasattva, Vajrasattva juga merupakan bagian terakhir dari Sadhana Caturprayoga--Sadhana Bodhisattva Vajracitta, yakni melatih hati sadhaka/Anda sendiri untuk menjadi sama seperti Vajrasattva, Ia sama sekali tidak akan berubah warna, juga tidak akan berubah bentuk, tidak rusak selamanya. (Hadirin tepuk tangan)

Hari ini kita menekuni Vajrayana, yakni bhavana kita tidak rusak dan tidak berubah warna, selamanya memiliki kekuatan yang terbesar, bisa menngendalikan samsara, bisa menghentikan kerisauan, bisa terlahir di alam suci, bisa mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang. Inilah Vajrasattva, disebut Bodhisattva Vajra.

Hari ini kita harus belajar dari Vajrasattva, tidak berubah bentuk, tidak berubah warna, bertemu kondisi apapun, baik adhistana positif maupun adhistana negatif, keyakinan Anda tidak akan pudar selamanya. Keyakinan Anda tidak rusak, itulah Vajracitta; Dharmabala yang Anda hasilkan dari bhavana Anda, yakni Vajra Tangan, Bodhisattva Vajrapani; hati Anda telah berhasil mencapai kebuddhaan, itulah Bodhisattva Vajracitta; Anda membabarkan Dharma dan menyeberangkan insan, itulah Vajrasattva. Mengerti? Jadi, semua orang harus menjadi Vajrasattva sejati, jangan menjadi Vajrasattva palsu, boleh dikatakan, setiap Tantrika bersarana pada Vajrasattva. "Bersarana pada Buddha, bersarana pada Dharma, bersarana pada Sangha, dan bersarana pada Vajracarya", semuanya bersarana pada diri Vajrasattva.

Ada sebuah cerita lucu, seseorang mengerti empat macam bahasa, luar biasa, orang yang mengerti 4 macam bahasa, sebagian besar orang keturunan Tionghoa mengerti banyak bahasa, Mahaguru bicara bahasa Inggris, semua orang tertawa, Gurudhara mengatakan bahasa Inggris Mahaguru adalah "Funny English", "So funny!" Seseorang mengerti 4 macam bahasa, seseorang bertanya padanya apa keempat macam bahasa yang ia mengerti, "Berbohong, omong kosong, membual, dan basa-basi."

Hari ini kita juga harus mengenal dengan jelas, acarya mana adalah Vajrasattva sejati, acarya mana adalah Vajrasattva palsu, juga harus bisa dibedakan. Kita berusaha sekuat tenaga, semoga Vajrasattva memberkati seluruh acarya, memberkati seluruh sadhaka, agar setiap acarya dan setiap sadhaka adalah Vajrasattva sejati. (Hadirin tepuk tangan) Om. Mani Padme Hum!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar