Jumat, 28 Oktober 2011

Kedahsyatan yang Tak Terhingga dari Sitatapatra Bhagawati Pembalik dan Penangkis

(Ceramah Dharmaraja Buddha Lian Sheng di Rainbow Villa Usai Homa Sitatapatra Bhagawati Tanggal 3 Februari 2008)


Sembah sujud pada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye. Sembah sujud pada adinata homa Sitatapatra Bhagawati Pembalik dan Penangkis, sembah sujud pada Triratna Mandala. Gurudhara, para acarya, dharmacarya, lama, para umat se-Dharma, selamat siang semuanya.

SITATAPATRA BHAGAWATI PEMBALIK DAN PENANGKIS TERLAHIR DARI LUBANG UBUN-UBUN SANG BUDDHA

Homa Sitatapatra Bhagawati pembalik dan penangkis yang diadakan hari ini memiliki makna yang sangat istimewa. Sitatapatra Bhagawati pembalik dan penangkis, kekuatan Dharma-Nya sangat tinggi, malah kedahsyatan-Nya tidak terhingga, oleh karena itu, Ia adalah Dharmapala, Dharmapalawati seluruh Buddha dan Bodhisattva. Di dalam kitab Sutra Sitatapatra Bhagawati Pembalik dan Penangkis tercatat, karena perlindungan-Nya, lahirlah banyak Buddha.

Kelahiran Sitatapatra Bhagawati juga ada nidananya, tercatat di dalam Kitab Sutra-Nya, dulu setelah Sakyamuni Buddha menetap satu kurun waktu di dunia manusia, Ia merasa dunia sangat rumit, ada konflik politik, ada konflik antar manusia, ada konflik antar aliran agama, ada konflik antar umat se-Dharma, juga ada guru konflik dengan siswa, siswa konflik dengan guru, berbagai macam konflik, Ia muak sekali melihatnya, Ia ingin pergi vacation, Ia ingin istirahat, lebih baik ke mana? Sang Buddha berpikir di dunia manusia tidak ditemukan tempat vacation yang baik, waktu itu Sang Buddha di Hindustan, yakni India, selain Sungai Gangga, juga ada gunung salju. Gunung salju sama sekali tidak ada saljunya, karena nama gunung itu sendiri adalah gunung salju, di sana juga tidak menyenangkan, Ia juga sudah pernah ke gunung salju; sering minum air Sungai Gangga, tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi. Gunung dan sungai sudah tidak ada yang bisa dikunjungi. Begitu wangsit Sang Buddha bergerak, Ia pun teringat dengan surga. Yang pertama teringat oleh-Nya adalah Surga Trayastrimsa yang diceritakan dalam Agama Buddha, yakni tempat Kaisar Langit, Taoisme mengatakannya Yu Huang Da Di, juga penguasa surga tengah dari 33 surga.

Lantas, Sang Buddha pun menggunakan kaki dewa pergi vacation ke Surga Trayastrimsa. Di sana seharusnya sangat damai, hanya menikmati kebahagiaan, tidak ada penderitaan, namanya juga surga! Surga Trayastrimsa dari Alam Karmadhatu. Vacation tetntu saja tidak seperti vacation di Amerika Serikat di mana orang-orang pergi ke tepi laut untuk berjemur matahari, berenang, memancing ikan, membaca buku di bawah payung matahari, ada yang membebaskan diri ke Nude Mile. Sang Buddha bukan, Ia pergi ke Surga Trayastrimsa, mengundang Penguasa Surga Trayastrimsa memberikan-Nya sebuah kamar, Ia bermeditasi dan tidur dengan baik di dalamnya, tidak peduli dengan hal-hal duniawi, apapun dilupakan.

Tepat saat Ia sedang vacation di Surga Trayastrimsa, Sang Buddha tengah tertidur, tiba-tiba terdengar teriakan pembunuhan di luar Istana Surga Trayastrimsa, sekawanan besar bala tentara menyerang Surga Trayastrimsa, Sang Buddha sangat terkejut. Tempat istana langit ini didominasi oleh sukha, tidak ada dukha, mana ada suara teriakan pembunuhan. Penguasa Surga Trayastrimsa pun buru-buru melapor pada Sang Buddha, memohon pertolongan Sang Buddha. Penguasa Surga Trayastrimsa berkata, Raja Asura memimpin seluruh bala tentara menyerang Surga Trayastrimsa.

Sang Buddha berpikir bahwa perang di dunia manusia sudah sangat hebat, di India, negara besar menelan negara kecil, negara kecil memikul upeti yang berat, rakyat hidup sengsara, Raja Vaidurya pun telah membinasakan Suku Sakya, di dunia manusia pun Sakyamuni Buddha tidak bisa pulang walau punya rumah sekali pun. Ia tak menyangka di surga juga ada perang, Raja Asura memimpin bala tentara menyerang Kota Trayastrimsa. Penguasa Surga Trayastrimsa memohon pertolongan Sang Buddha.

Sakyamuni Buddha berpikiran bahwa Ia bertamu di sini, lagipula orang lain telah melayani dengan sangat baik, sekarang orang lain sedang terjadi peperangan, kalau Ia kabur begitu saja, ini juga tidak benar, apalagi Penguasa Surga Trayastrimsa telah memohon pada-Nya. Saat ini, Sang Buddha pun menitiskan sesosok Sitatapatra Bhagawati pembalik dan penangkis dari lubang ubun-ubun kepala-Nya, juga bertangan dan bermata seribu, Ia bahkan memegang sebuah payung putih berukuran besar. Sitatapatra berubah menjadi sebuah tudung vajra yang berwarna putih, yang namanya vajra adalah tidak terhancurkan, sangat kokoh, tudung vajra yang sangat kuat, makin lama makin luas, menangkis seluruh istana Trayastrimsa.

Raja Asura memimpin bala tentara memanah tudung vajra, sekali panah, anak panah pun patah; memancung tudung vajra dengan golok, golok pun patah, sekeliling Istana Trayastrimsa pun ditangkis dengan tudung vajra dari Sitatapatra. Kalian boleh visualisasi payung ini menutupi seluruh penjuru, sehingga Istana Trayastrimsa pun tertutup, seluruh rakyat dan penguasa Surga Trayastrimsa pun berada di dalam lingkup payung pusaka, tidak ada satu benda pun yang bisa menghancurkan Sitatapatra. Raja Asura telah menghabiskan kekuatan 9 ekor lembu dan 2 ekor harimau (kekuatan yang maha besar) pun tidak dapat membuka tudung vajra, lebih baik mundur saja. Sehingga, Surga Trayastrimsa pun berhasil ditolong oleh Sang Buddha. Oleh karena itu, sebab kelahiran Sitatapatra Bhagawati adalah Bhagawati pembalik dan penangkis yang menjelma dari ubun-ubun kepala Sakyamuni Buddha.

Sang Buddha bertanya pada Penguasa Surga Trayastrimsa, "Apa yang telah Anda lakukan sehingga Raja Asura bisa murka?" Penyebabnya ada dua. Penguasa Surga Trayastrimsa menjelaskan dengan penuh malu, karena saya menginjak di dua perahu. Asura pria sangat jeleknya, tak disangka Asura wanita justru sangat cantik, Penguasa Trayastrimsa pun memperistri putri Raja Asura dan dijadikan permaisuri, yakni ratu. Namun, wajah yang cantik kalau sudah lama dipandang juga akan bosan. Oleh karena itu, belakangan Penguasa Surga Trayastrimsa pun menaksir dayang istana yang cantik jelita, juga memperistrinya. Permaisuri murka, pulang dan melapor pada Raja Asura, mengatakan bahwa Penguasa Surga Trayastrimsa mencampakkannya. Raja Asura sangat marah, saya menikahkan putri saya padamu untuk menjalin hubungan baik antar 2 kerajaan! Kini, Penguasa Surga Trayastrimsa menindas sang permaisuri, makanya, Raja Asura pun mengutus bala tentara untuk menyerang Istana Trayastrimsa.

KEKUATAN SITATAPATRA BHAGAWATI PEMBALIK DAN PENANGKIS SANGAT BESAR

Masih ada alasan kedua, suatu kali Raja Asura sedang merayakan ulangtahunnya di dasar laut, seluruh asura pun berkumpul, mereka datang memotong kue tar dari pisau kecil hingga pisau besar, satu orang satu potong, semua orang bersenang-senang di arena yang sangat luas di dasar laut. Tiba-tiba di angkasa lewat sekawanan orang, yakni Dewa Trayastrimsa membawa sekawanan jenderal istana sedang patroli memeriksa dunia, dari tengah angkasa melewati permukaan laut asura. Saat Raja Asura yang tengah berulangtahun melihat angkasa, mengapa Penguasa Surga Trayastrimsa membawa sekawanan bala tentara lewat di atas kepala saya, berarti tidak menghormati saya. Mengapa Ia boleh lewat di atas saya, bukan di bawah saya, ini sengaja menantang saya, saya tidak tahan. Justru karena kedua alasan ini, Raja Asura sangat murka, lantas membawa seluruh bala tentara menyerang Surga Trayastrimsa, membunuh hingga bala tentara Istana Trayastrimsa pun terpukul mundur, lalu bersembunyi di dalam Istana Trayastrimsa, pada akhirnya Sang Buddha pun dibangunkan. Untung Sang Buddha mengeluarkan Sitatapatra Bhagawati, akhirnya Surga Trayastrimsa pun selamat. Oleh karena itu, Sitatapatra Bhagawati sangat dahsyat. Anda lihat saja Raja Asura memiliki kekuatan Dharma yang sangat luar biasa, juga tidak dapat mengalahkan kekuatan Sitatapatra Bhagawati pembalik dan penangkis.

Apa yang dimaksud dengan pembalik dan penangkis? "Pembalik" artinya sebesar apapun kekuatan Dharma yang Anda miliki, saya balikkan pada Anda. Apa yang dimaksud dengan "penangkis"? Yakni, sebesar apapun kekuatan Dharma Anda, Ia pun ditangkis. Oleh karena itu, kebaikan Sitatapatra Bhagawati adalah Ia sendiri adalah adinata penakluk, juga termasuk dewa vajra, yakni dewa vajra orde ibu, yakni termasuk dewa vajra aspek kebijaksanaan, oleh karena itu, Ia sendiri juga tidak rusak, juga vajra, juga mahabala, juga kokoh. Jika Anda menekuni yidam yang satu ini, Anda tentu tidak takut guna-guna, Anda visualisasi Sitatapatra naik ke tengah angkasa, tudung vajra-Nya menutupi, seluruh ilmu sihir pun tidak dapat mengenai, semua bencana pun menyingkir, oleh karena itu, seluruh hal negatif pun dibalik dan ditangkis, makanya Ia termasuk adinata penaklukan, tidak hanya menaklukkan guna-guna, juga bisa menaklukkan semua setan jahat, semua Mara, bahkan Asura, semua karma buruk pun tidak akan muncul. Mengertikah Anda?

Kita orang yang belajar Agama Buddha, walaupun punya hati yang lapang, kita selalu memaafkan orang lain, keras terhadap diri sendiri, namun memaklumi orang lain. Kita pun selalu melakukan hal-hal positif. Namun, walau demikian pun, bisa terjadi hal-hal yang mengganggu di dunia ini di luar dugaan Anda, oleh karena itu, Sang Buddha pun pergi vacation di Istana Surga Trayastrimsa.

Kemarin malam, saya merasa di dalam tidur saya, tiba-tiba seseorang menggunakan dua buah gunung menindih saya, supaya saya menjadi daging cincang, untung kedua kaki saya menjelmakan dua kuntum teratai, menahan diri saya, lalu terbang ke puncak gunung. Begitu gunung menjepit, saya tepat berdiri di puncak gunung. Kemudian ada lagi orang yang menggunakan kekuatan Dharma, mengundang semua naga untuk mendatangkan air bah, lalu menghanyutkan gunung tempat saya berdiri, untung kedua kuntum teratai saya itu menahan diri saya, kabur lagi ke tengah angkasa, saya pun mengapung di atas permukaan laut, teratai saya naik setinggi ombak. Saya merasa sangat baik, banyak orang bertepuk tangan di bawah, wah! Bagus! Permainan kesaktian demikian sangat bagus! Kelak jika memperagakan permainan kesaktian demikian, pasti banyak orang bersarana. (Mahaguru tertawa)

Saya pikir suatu hari jika otak saya "xiudou", jika saya turun dari lantai dua ke lantai dasar dengan kaki ditopang oleh teratai, memperagakan permaianan kesaktian, saya mungkin pergi mengunjungi dokter ahli tulang. (Mahaguru tertawa) Itu di dalam mimpi! Ada fenomena demikian. Waktu itu, dalam hati saya berpikir, apa yang harus saya lakukan? Bahkan ada orang yang menjepit dengan gunung, ada orang yang menghanyutkan dengan air bah, untung kedua kuntum teratai putih menahan diri saya, terus naik ke atas. Saya juga ingin mengatakan bahwa saya sama dengan Sang Buddha, dunia manusia memang tidak nyaman ditinggali, saya seharusnya sesekali pergi vacation sejenak di surga saat tengah malam. Anda tahu orang bule suka sekali vacation, setelah bergelut dalam pekerjaan selama satu kurun waktu, lalu keluar bermain, mengendurkan suasana hati, tidak seperti kita orang China, ada workalkholic, satu orang menggeluti 2 macam pekerjaan pun masih belum puas, masih harus menggeluti 3 jenis pekerjaan, barangkali selama waktu luang dari tiga pekerjaan pun masih pergi mengerjakan kerja sampingan. Orang China mengutamakan mencari nafkah, orang bule mengutamakan vacation. Orang lain sedang menikmati hidup, kita sedang mati-matian mencari nafkah. Kalau Mahaguru justru sedang mati-matian membabarkan Dharma. Dipikir-pikir! Saat harus berwisata, seharusnya berwisata, ini baru benar. Saya sarankan pada para budiman, para arya, para ibu, kalau Anda sendiri telah lelah bekerja, pergilah vacation. Sewaktu vacation, perhatikan sejenak, mohon sejenak Sitatapatra Bhagawati Pembalik dan Penangkis, agar Anda berwisata, walaupun keluar atau pulang, segalanya aman sentosa dan sejahtera. Om Mani Padme Hum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar