Rabu, 26 Oktober 2011

皈依要事師

Banyak orang merasa sangat heran, nama Dharma Maha Guru Lu Sheng-yen adalah Lian Sheng, sedangkan nama Dharma siswa-siswa-Nya diawali dengan kata "Lian". Bukankah ini sangat aneh? Menurut tradisi pada umumnya, nama Dharma Sang Guru memiliki kata depan yang berbeda dengan nama Dharma sang siswa, misalnya Guru saya adalah Bhiksu Yin Shun, sedangkan nama Dharma saya adalah Hui Yan. Ketika saya berguru pada Bhiksu Le Guo, nama Dharma saya adalah Dao Yan, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya, saya menyamakan nama Dharma saya dengan siswa saya, alasannya ada 3:

Pertama, tingkat keberhasilan yang sama. Saya berharap tingkat keberhasilan sadhana semua siswa saya sama dengan saya, semuanya dapat menyeberang ke dunia kolam teratai.

Kedua, prinsip persamaan. Saya tidak membuat nama Dharma saya berbeda dengan nama Dharma siswa-siswa saya, siswa-siswa saya tidak berbeda dengan saya, kita adalah penyatuan dari Tri Ratna, supaya bisa lebih dekat lagi, Dharma dari Maha Guru langsung diturunkan kepada siswa-Nya, semuanya mencicipi manfaat Dharma, baik siswa yang dekat maupun yang jauh, sama-sama mendapatkan manfaat Dharma.

Ketiga, guru-siswa adalah satu keluarga. Pada dasarnya saya sudah mempunyai konsep bahwa bila sang siswa memperoleh Dharma yang agung dalam sadhananya, kadang-kadang bisa menonjol bahkan melebihi, saya berharap sadhana setiap siswa-siswa saya dapat mengungguli diri saya, oleh karena itu saya menyamakan nama Dharma siswa-siswa saya dengan saya, berarti guru dan siswa adalah satu keluarga, juga berarti bisa lebih dekat.

Di saat yang bersamaan, saya Sang Maha Guru ini, sama sekali tidak ada profil sebagai Maha Guru, apapun terserah. Sementara beberapa siswa-siswa Saya menganggap saya, Sang Guru ini seperti layaknya teman, apapun terserah, tidak bisa dibedakan mana sang Guru, mana sang siswa. Saya juga tidak punya wibawa apa-apa, juga tidak menurunkan perintah, semuanya terserah, begitulah saya sang Guru ini.

Namun, sikap saya terhadap Guru saya sendiri, justru berbeda, begitu bertemu Guru saya, saya pasti memandang-Nya sebagai layaknya Buddha, kedua kaki saya langsung bersujud, kepala menyentuh lantai, kedua tangan diulurkan, langsung melalukan maha namaskara, saya menghormati Guru saya berdasarkan tata krama seorang siswa, di saat bersamaan, bila Guru berada di dekat saya, saya langsung memberikan sendiri persembahan kepada Guru saya, kalau Guru berada di tempat yang jauh, saya tetap mengirim persembahan kepada Guru saya lewat pos. Inilah tata krama saya sendiri dalam mengabdi pada Guru saya.

Terhadap Guru saya, saya selalu mengenang, sehari menjadi guru, seumur hidup adalah guru, setiap kali melakukan ritual pagi dan malam, itulah saatnya saya mengenang Guru saya, saya juga sangat menghargai Dharma yang diwariskan oleh Guru saya.
Buddha Dharma itu sendiri sangat mementingkan tata krama, oleh karena itu di dalam Gatha Parinamana dan Prasetya Asvagosha Bodhisattva terdapat "Gurupancasika", inilah tata krama siswa dalam menghormati Sang Guru. Saya menuliskannya karena saya merasa yang bisa menjalankan, usahakanlah untuk menjalankannya, kalau yang tidak sanggup menjalankan, terserah jodoh saja, marilah kita simak apa yang tersebut di dalam "Gurupancasika". Bagaimana seorang siswa yang telah bersarana baru dianggap sesuai dengan kriteria sebagai seorang siswa.
Penjelasan dari "Gurupancasika" adalah sebagai berikut: (kitab ini diperoleh dari vihara pusatnya)

Pengarang asli: Asvagosha Bodhisattva

Dijelaskan oleh: Acharya Pu-fang

Ditulis oleh: Yuan-kou. Penjelasan naskah ini adalah usul dari penulis.

1. Seorang siswa harus mengingat Guru dan melakukan Namaskara kepada Guru 3 kali setiap harinya (pagi, siang, senja). Dengan rasa hormat seperti kepada Sang Buddha.

2. Berdana bunga ke altar, melakukan Maha Namaskara kepada Guru.

3. Guru yang seorang bhiksu maupun yang bukan, atau yang baru menerima sila lengkap, jika berada di hadapan rupang, atau kitab suci, harus diberikan penghormatan, jangan mencurigainya dan mempunyai pikiran jahat.

4. Melaksanakan tugas yang diberikan Guru dengan setulus hati, memahami sopan santun yang selalu memberikan tempat utama kepada Guru.

5. Teliti terlebih dahulu sebelum berguru, apakah cocok sebagai guru bimbingan. Seorang gurupun harus memperhatikan calon siswa, apakah mampu dibina, apabila tidak, sama-sama melanggar sila, yaitu meremehkan sila.

6. Mudah emosi, tidak memiliki welas asih, serakah dan suka kemewahan, sombong dan suka memuji diri sendiri, untuk guru yang seperti ini, kita tidak perlu berlindung kepadanya, maka sebelum berlindung seharusnya memahami sifat dan kebiasaaan Guru dengan jelas.

7. Memiliki Metta Karuna, Bijaksana serta mentaati sila, bisa menjaga kehormatan diri sendiri, tidak memihak dan jujur, mengerti semua Dharma, demikianlah seharusnya seorang guru yang baik. Oleh karena itu harus meneliti sebelum berguru.

8. Mengerti semua Dharma, serta telah mencapai Dasa Bhumi Bodhisattva, tidak ternoda oleh ke-enam indra, serta tidak memiliki kilesa, demikianlah seharusnya seorang Guru yang baik.

9. Seorang siswa (yang meminta Dharma) tidak boleh menfitnah Guru, karena menfitnah Guru bagaikan menfitnah Sang Buddha, pasti berakibat penderitaan.

10. Menfitnah Guru adalah tindakan yang sangat bodoh, karena segera akan menerima akibatnya, yaitu makhluk halus akan merasuki dirinya, pasti menderita sakit sehingga tidak dapat bebas.

11. Menfitnah Guru juga bisa melanggar hukum duniawi, terluka oleh racun, terkena bencana banjir, kebakaran, perampokan, segala makhluk halus memberikan malapetaka.

12. Menfitnah Guru akan mendatangkan rintangan dari makhluk halus, setelah meninggal masuk ke alam samsara, yaitu alam neraka, alam preta (setan kelaparan), dan alam binatang.

13. Seorang siswa bila melaksanakan tugas dari Guru, jangan menyulitkan Guru (menambah keruwetan). Kalau menyimpang dari petunjuk Guru bahkan menghianati Guru akan masuk ke neraka Avici.

14. Neraka Avici adalah neraka yang paling sengsara, karena menfitnah Guru, bisa berakibat begitu menakutkan, dengan penderitaan yang tiada habisnya.

15. Seorang siswa harus membantu Guru yang menyebarkan Dharma yang benar dengan setulus hati, bila ada niat meremehkan sama dengan melanggar sila-sila yang tersebut di atas.

16. Sepenuh hati berdana kepada Guru, menghormati Guru, karena dengan pemberkatan dari Guru baru dapat melenyapkan rintangan dan kilesa.

17. Seorang Tantrika, nyawapun bersedia dikorbankan apalagi hanya harta benda, oleh karena itu, orang yang suka memberi persembahan dengan rela adalah orang yang memiliki kesejahteraan (kebahagiaan)

18. Seorang pelaksana bila belum menjumpai seorang Guru, maka tidak akan dapat mencapai kebuddhaan, oleh karena itu, keberhasilan seorang pelaksana adalah berkat jasa dan anugerah dari Guru.

19. Melayani Guru adalah tekad awal seorang siswa yang sama pentingnya dengan memberikan persembahan kepada Sang Buddha.

20. Guru juga mewakili Tri Ratna, oleh karena itu memberikan persembahan yang terbaik kepada Guru akan mendapat pahala yang tiada taranya.

21. Memberikan persembahan kepada Guru dan Sang Buddha adalah ladang jasa yang terbaik, sehingga mempercepat pencapaian kebodhian.

22. Menghormati Guru secara tulus, penuh kesabaran, jujur, pasti memperoleh kebijaksanaan berasal dari Sang Buddha.

23. Jangan menginjak bayangan Guru, dan jangan duduk di ranjang Guru, serta jangan menggunakan peralatan yang sering dipakai Guru, semua ini termasuk sila.

24. Dengan senang hati menerima ajaran Guru, kalau tidak sanggup boleh menyampaikan alasannya secara baik-baik.

25. Karena diajarkan Guru, siswa baru dapat mencapai keberhasilan, maka Guru adalah ladang jasa yang terbaik, oleh karena itu seorang siswa jangan melanggar perintah Guru.

26. Menjaga harta benda Guru sama seperti jiwa sendiri dan tidak boleh pemborosan. Menghormati orang yang dihormati Guru dan menghormati sanak saudaranya serta jangan meremehkannya.

27. Di hadapan Guru harus berpenampilan rapi, tidak boleh ada tingkah laku yang aneh-aneh dan kurang sopan seperti mengangkat kaki, bertolak pinggang.

28. Penampilan siswa Sang Buddha harus rapi, saat duduk kaki tidak boleh dilonjorkan, bila Guru berdiri harus segera ikut berdiri.

29. Jalan yang akan dilalui Guru, siswa sebaiknya berdiri di samping, dan dengan hormat menyambut dan mengantarnya. Bila Guru batuk, membuang ingus, juga tidak boleh merasa jijik.

30. Di hadapan Guru tidak boleh berbisik-bisik, semua tindakan yang kurang sopan, harus dihilangkan.

31. Sikap menerima petunjuk dari Guru harus tenang dan menghormati. Saat berjalan di jalanan yang agak berbahaya, siswa seharusnya berjalan di depan.

32. Di hadapan Guru harus bersemangat, tidak lesu. Gerakan yang kurang penting harus dihilangkan, jangan menyandarkan tubuh ke dinding.

33. Sewaktu mencuci pakaian, mandi dan mencuci kaki, sebaiknya memberitahukan Guru, agar tidak terlihat Guru.

34. Tidak boleh menyebut nama Guru sesukanya, bila ada yang bertanya sebaiknya menyebutkan gelarnya.

35. Siap menerima tugas dari Guru, dan selalu mengingat tugas yang diberikan Guru, serta berusaha menyelesaikannya dengan baik.

36. Menutupi mulut dengan tangan apabila ingin tertawa, bersin, batuk. Jika ingin berbicara harus memberi hormat terlebih dahulu.

37. Bila kaum wanita mendengarkan ceramah Dharma, harus berpenampilan rapi, tangan beranjali dan penuh perhatian.

38. Guru mengajarkan Dharma, kaum wanita haru menjalankan dengan cermat, tidak boleh angkuh, mempelajari Dharma dengan sikap bagaikan pengantin wanita yang menundukkan kepala.

39. Kaum wanita belajar Dharma harus bisa menjauhi sikap memamerkan diri dan tidak melekat kepada perhiasan. Segala macam hal yang tidak atau kurang baik harus dijauhi.

40. Belajar budi pekerti Sang Guru, bila Guru melakukan kesalahan kecil, jangan disebarluaskan. Belajar menuruti kehendak Sang Guru baru bisa memperoleh hasil. Kalau selalu membesar-besarkan kesalahan Sang Guru, akan membuat siswa sendiri tidak bisa maju, serta dapat mencelakakan siswa sendiri karena telah meremehkan Sang Guru.

41. Semua masalah yang berkaitan dengan Dharma harus ikuti petunjuk dari Guru, jika tidak memperoleh petunjuk dari Sang Guru, tidak boleh melakukannya.

42. Dana Paramita dari pembabaran Dharma seharusnya diperuntukkan untuk Sang Guru, bila ingin menggunakannya harus memperoleh izin dari Sang Guru.

43. Silsilah Sang Guru harus dijaga, antara sesama siswa tidak diperbolehkan saling mengangkat sesama siswa sebagai Guru, ini adalah silsilah.

44. Memberikan barang kepada Sang Guru harus memberikan dengan dua tangan. Apabila menerima sesuatu dari Sang Guru, juga harus menerima dengan kedua tangan yang melebihi kepala.

45. Siswa Sang Buddha harus belajar dengan sepenuh hati dan terus-menerus, yang tidak sesuai sila jangan dijalankan. Tidak boleh secara sengaja mencari-cari kesalahan Sang Guru.

46. Ajaran Sang Guru harus dilaksanakan semuanya, bila tidak dapat melaksanakan karena sakit, harus dijelaskan secara baik, sehingga tidak melanggar sila.

47. Semua tindakan harus selalu membuat Sang Guru gembira, dengan rajin membantu Sang Guru mengatasi masalah yang sulit. Berdana dan melayani Sang Guru dengan hormat dan rajin. Banyak cara untuk melayani Sang Guru, sehingga tidak dapat disebutkan semua.

48. Demikianlah Sabda Sang Buddha :"Berlindung kepada Guru, akan mendapatkan keberhasilan yang besar."

49. Bagi siswa yang baru berlindung, diharuskan membaca "Gurupancasika" agar tidak melanggar sila.

50. Setelah siswa menerima abhiseka perlindungan, kemudian diberikan pelajaran Tantra agar menjadi sadhana yang benar, juga harus mengajari "14 Sila Pokok Tantrayana", agar semua siswa baru dapat menjalankan semua sila dan menjadi pelaksana Vajrayana yang baik.

"Gurupancasika" ini adalah aturan yang harus dilaksanakan oleh semua Tantrika. Setelah saya memahami "Tata Krama Mengabdi pada Guru" ini, berusaha semaksimal mungkin mematuhinya, melayani dan berdana kepada Guru saya sendiri. Karena semua Dharma Tantra yang saya pelajari, kalau tanpa pewarisan dari Guru saya, bagaimana saya bisa mencapai kesempurnaan dalam sadhana?

Saat ini siswa saya bertambah banyak, di Seattle, panji Dharma telah ditingkatkan agar lebih sempurna. Diharapkan para siswa di seluruh dunia, bersama-sama mempelajari "Gurupancasika" ini, menghormati Sang Guru dan saudara se-Dharma, serta jangan sengaja melanggarnya, meski saya mengikuti kehendak siswa, tetapi Vajra Pelindung Dharma (Dharmapala) yang mengawasi dan melindungi siang dan malam. Barangsiapa yang sengaja melanggarnya, akan mendapatkan akibat buruk, saat itu, bahkan sayapun tidak dapat menolongnya.

(Sumber: Buku Lu Sheng-yen "Sadhaka Seattle" hal.91)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar