Kamis, 24 November 2011

Sebagai Sadhaka Anggaplah Orang yang Memarahi Anda Sebagai Orangtua atau Bodhisattva

(Intisari Ceramah Y.M. Buddha Hidup Lian Sheng pada tanggal 30 Juni 2007 di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle)

Sembah sujud kepada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa Karmapa XVI, dan Guru Thubten Dhargye.
Acarya Lian Huo selaku pemimpin kebaktian, Guru Dhara, Para Acarya, Dharmacarya, para Lama, para umat se-Dharma, dan umat se-Dharma di internet, salam sejahtera.
Hari ini kita mendengarkan ceramah dari Acarya Lian Huo tentang bersadhana tanpa penyertaan pikiran adalah Buddha-ratna yang mencapai pencerahan sejati. Beliau juga sempat menjelaskan tentang pikiran baik dan pikiran jahat. Sebenarnya intisari Agama Buddha adalah sebab-akibat dan kebaikan-kejahatan, terutama berharap agar para insan dapat menghindari kejahatan dan melakukan kebajikan, ini adalah tujuan terpenting pertama di dalam Agama Buddha.
Kedua, Buddhadharma berharap para insan dapat bebas dari tumimbal lahir. Sebab tumimbal lahir identik dengan penderitaan, para insan sebentar baik sebentar jahat, berputar terus di dalam enam alam reinkarnasi, dan tidak pernah bebas dari tumimbal lahir. Jadi tujuan terpenting kedua adalah berharap para insan dapat bebas dari penderitaan akibat tumimbal lahir.
Tujuan ketiga, Buddha menjelaskan tentang prajna alias kebijaksanaan agung, memahami tentang bodhicitta alias mahamaitri-karuna, dengan adanya mahaprajna dan mahamaitri-karuna, seseorang akan mencapai empat alam suci, inilah inti dari Buddhadharma.
Tadi Acarya Lian Huo sempat membahas tentang uang. Menurut Mahaguru, tidak ada seorang pun yang dapat membawa uang seumur hidupnya. Dengan kata lain, uang hanya untuk dipandang seumur hidup Anda, bila uang Anda banyak, Anda pun memandang banyak uang, bila uang Anda sedikit, Anda pun memandang sedikit uang. Sebenarnya banyak atau sedikit tidak jauh beda, sama saja.
Kekayaan kita tidak ada di Dunia Saha tetapi di surga, sekaya apapun seseorang, Mahaguru merasa lebih kaya daripada mereka. Bukan berarti Mahaguru kaya raya, melainkan secara spiritual, Mahaguru lebih kaya dari siapapun juga. Tentu saja perasaan semacam ini tidak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan!
Para insan berharap memiliki uang yang lebih banyak lagi, paling tidak seperti yang dikatakan oleh Guru Dhara, ada uang untuk dihamburkan, berusaha menghamburkan, dan tidak habis dihamburkan. Namun dalam hal kaya, kita sebagai sadhaka justru adalah orang terkaya, tidak ada seorang pun yang lebih kaya daripada kita.
Sang Buddha kerap menjelaskan tentang Sad-paramita pada kita khususnya tentang Dana-paramita, artinya kita harus membantu orang lain. Acarya Lian Huo sempat mengatakan bahwa walaupun kita hanya memikirkan dan belum sempat melaksanakannya, namun pahalanya sudah besar, inilah dana-paramita. Mendahulukan kepentingan para insan, bukan kepentingan sendiri, itulah Bodhisattva, itulah Dana-paramita. Inilah "anatman (tiada aku) yang pertama disabdakan oleh Sang Buddha.
Mahaguru berlatih Ksanti-paramita – bersabar. Seseorang kerap berkata pada Mahaguru: Mahaguru mengalami banyak fitnahan, serangan, dan kegagalan sepanjang hidup Mahaguru, tapi mengapa Mahaguru tidak marah? Mahaguru katakan pada Anda semua bahwa sekarang Mahaguru tidak gampang marah. Dulu sepulang dari upacara di Taiwan, media pun melaporkan. Setelah dibaca oleh Acarya Lian Jie, ia pun menulis kata "marah. Banyak umat melihat Acarya Lian Jie menulis tentang marah, mereka pun ikut-ikutan marah, sebab media Taiwan meliput hal-hal yang negatif, jadi semua orang pun marah.
Jangan marah. Asal tahu saja bahwa saya melatih Ksanti-paramita. Pertama, saya anggap orang lain sedang mendidik Mahaguru, yang masuk akal, kita harus bertobat dan mengoreksi diri: yang tidak masuk akal, anggap saja orang tua kita sedang mendidik kita. Sadhaka harus menganggap orang-orang yang mendidik Anda sebagai orang tua Anda. Walaupun dalam kehidupan sekarang mereka bukan orang tua Anda, namun dalam kehidupan lampau mereka mungkin orang tua Anda! Sebab ia begitu suka mendidik Anda. (hadirin tertawa) Orang tua paling pintar mendidik anak-anak. Kita sebagai sadhaka harus berpikir bahwa orang ini mungkin orang tua kita dalam kehidupan yang lampau dan mereka membawa sifat dan kebiasaan sebagai orang tua, ia paling suka menghina Anda, memarahi Anda, dan mendidik Anda. Kita harus menganggap mereka sebagai orang tua kita, ini adalah kesabaran yang pertama. Sadhaka harus menganggap orang yang menghina, mendidik, dan menfitnah Anda sebagai orang tua Anda.
Kedua, kita harus berpikir bahwa dunia ini pada dasarnya sama saja, selama Anda memiliki sesuatu maka orang lain akan iri, cemburu, dan menganggap Anda lebih baik dari dirinya, ia merasa dengki, sehingga ia pun menghina Anda. Anda harus menganggap penghinaan ini adalah hal yang biasa di dunia ini.
Ada yang merasa dengki bila orang lain lebih kaya darinya, atau lebih hebat darinya. Misalnya orang lain sudah menjadi seorang Acarya sementara dirinya masih seorang Lama, atau orang lain adalah seorang Lama sementara dirinya adalah seorang perumahtangga. Semua manusia sama saja, suka membanding-bandingkan.
Mengapa Mahaguru memperkenankan semua Acarya dan Dharmacarya mengenakan rompi naga? Karena Mahaguru menganggap semua Acarya dan Dharmacarya adalah sama. Mahaguru akan memuji bila mereka mengenakan rompi naga. Kalau mereka tidak mau, Mahaguru juga tidak akan berkomentar apa-apa, apa boleh buat, sekarang sudah demokratis.
Yang suka pakai, boleh pakai; yang tidak suka pakai, juga pakai, jangan disuruh lagi oleh Mahaguru! Yang tidak suka pakai juga terpaksa pakai, untuk negara-negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Taiwan, atau Hong Kong, kalian boleh membuat rompi naga yang lebih tipis supaya lebih nyaman dipakai.
Ada yang berpikir, hanya Mahaguru yang boleh pakai rompi naga, kita jangan pakai rompi naga, sebab Mahaguru lebih terhormat. Mahaguru tidak pernah berpikiran demikian. Mahaguru berpikir bahwa siswa telah membuatkan rompi naga dan mempersembahkannya kepada Mahaguru, bila saya tidak pakai, siswa saya akan sedih. Tahukah kalian bahwa hari ini Mahaguru telah dua kali ganti baju! (hadirin tertawa dan tepuk tangan) Yang pertama buatan Sdri. Mei. Ketika makan Mahaguru harus pakai untuk diperlihatkan pada Sdri. Mei; ketika kembali ke Zhenfo Miyuan saya ganti lagi dengan yang sekarang saya pakai, sebab Sdri. Mei-diao terus bertanya: Mahaguru, rompi naga yang saya berikan pada Mahaguru itu cocok atau tidak? Jadi sekarang saya pakai untuk diperlihatkan pada Anda! Mahaguru selalu ingin membahagiakan Anda semua.
Bukan berarti Mahaguru terhormat, bukan! Anda semua pun terhormat. Hanya saja Mahaguru lebih awal mencapai pencerahan. Mahaguru jelaskan bahwa Anda semua adalah orang terhormat. Seorang umat Buddha tidak ada perasaan cemburu, iri, serakah, maupun cinta; orang lain masih serakah, cinta, iri, dan cemburu, itu biasa, manusia memang demikian. Jadi kalau ada sebagian media yang melaporkan tentang Mahaguru, saya juga tertawa saja, tidak ambil pusing. Memang tidak ada masalah dan tidak ada yang dipikirkan, saya tidak akan marah – Ksanti Paramita, penting sekali.
Ketiga, jika tidak ada orang yang menghina saya, saya akan lengah. Saya akan berlari lebih cepat bila ada yang menghina, memaki, mendidik, dan menfitnah saya. Mereka justru membantu saya, jadi bagi saya mereka adalah bodhisattva. Semua orang yang memaki, mengritik, dan menfitnah Anda adalah bodhisattva.
Bila sadhaka mengerti untuk berlatih ksanti-paramita, anggap orang-orang yang memarahi Anda sebagai bodhisattva yang sangat mulia, dan hormatilah mereka. Amitabha, Sadhu, Sadhu! Sadhu, Sadhu sering diucapkan oleh Sang Buddha, artinya sangat baik atau sangat mulia.
Bila orang lain mendidik, memarahi, menfitnah, menindas, menendang, dan memukul saya, bahkan mendesak saya ke ambang kematian. Namun saya justru akan bangkit dari kematian! Teratai baru akan mekar! Mengerti? Mereka adalah bodhisattva, jangan mengira orang yang memarahi Anda adalah orang jahat, sebenarnya, mereka memarahi, menghina, dan menfitnah Anda, mereka justru memberi Anda kesempatan berlatih kesabaran alias ksanti-paramita. Mundur selangkah langit terbentang luas di hadapan Anda, mundur sepuluh langkah Anda pun mencapai kebuddhaan!
Para Lama jangan selalu memarahi dan mengritik upasaka atau upasika, biarkan mereka senang, sebab mereka belum mencapai keberhasilan dalam sadhana mereka, mereka belum mencapai keberhasilan ksanti-paramita. Mahaguru telah mencapai keberhasilan ksanti-paramita di mana saya semakin dimarahi, saya malah semakin senang! (hadirin tertawa) Mengapa bisa begini? Semakin kotor makian Anda, saya malah merasa semakin senang, luar biasa, semakin suci, dan semakin melampaui.
Jangan karena Mahaguru berkata demikian, kalian para Lama lantas mengira bahwa memarahi orang lain adalah bodhisattva, kalian pun terus memarahi orang lain. (Hadirin tertawa) Bukan itu maksud Mahaguru. Di mata Mahaguru, semua orang yang memarahi Mahaguru adalah bodhisattva. Kalian jangan berpikiran kalau begitu saya saja yang menjadi bodhisattva, biarlah saya saja yang mendidik Anda semua. Jangan!
Orang yang memarahi saya akan saya anggap sebagai orang tua saya atau bodhisattva, atau masa bodoh saja, memang begitulah. Inilah hasil pemikiran saya selama berlatih ksanti-paramita, semoga Anda semua juga dapat melatih ksanti-paramita. Saya malah berharap siapapun Anda, jangan memarahi, mengritik, dan menfitnah lagi. Dalam aspek ksanti-paramita, Mahaguru telah mencapai tahap keseimbangan batin, pada saat ini, pandangan saya terhadap dunia ini berubah, dunia ini menjadi luar biasa. Para insan luar biasa, buddha dan bodhisattva luar biasa, sebab-akibat luar biasa, seseorang sudah sangat luar biasa bila sudah mencapai tingkat spiritual demikian.
Secara teori, jika Anda telah mencapai pencerahan berarti Anda telah memperoleh kebijaksanaan agung. Namun, sebagai seorang sadhaka, bila Anda belum memperoleh kebijaksanaan agung, Anda tidak lebih dari orang awam kebanyakan, sehingga Anda tidak dapat memperlakukan orang lain dengan sikap demikian. Anda harus melatih diri hingga mencapai pencerahan secara teori dan praktek, setelah itu, Anda baru dapat mencapai tingkat spiritual demikian.
Hari ini saya haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Anda semua, rekan-rekan di internet, dan Anda semua yang telah datang dari jauh. Besok pukul 2 sore akan diadakan Homa Yaochi Jinmu, kita menghormati Yaochi Jinmu, sebab Beliau adalah ibunda dari Mahaguru. Terima kasih semuanya. Om Mani Padme Hum.

Sumber : www.tbsn.org

Ketekunan dan Konsentrasi Menekuni Empat Dhyana

(Intisari Ceramah Y.M. Buddha Hidup Lian Sheng pada kebaktian hari Sabtu tanggal 7 Juli 2007 di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle)

Sembah sujud kepada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa Karmapa XVI, dan Guru Thubten Dhargye.
Guru Dhara, Para Acarya, Dharmacarya, Para Lama, para umat se-Dharma, salam sejahtera semuanya.
Tadi kita mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Lama Lian Qing tentang "Samadhi"; Acarya Dehui menyampaikan banyak perihal siaran langsung lewat internet, selain itu ia juga sempat menjelaskan perihal rompi naga. Mahaguru benar-benar pernah mendiskusikan masalah ini dengan tiga kaisar-kaisar langit, kaisar bumi, dan kaisar manusia; belakangan saya ingin memperkenankan semua acarya mengenakan rompi naga. Sebab bila semua acarya mengenakan rompi naga akan bermanfaat untuk Mahaguru, apa manfaatnya? Misalnya kita sedang berjalan bersama, siapapun tidak bisa mengenali yang mana Mahaguru. Barangkali kalau orang lain hendak melempar telur ayam, ia melihat semua acarya mengenakan rompi naga, sementara Mahaguru berbaur di antara mereka, ditambah perawakan Mahaguru yang mungil, orang lain tidak dapat melihat keberadaan saya, lagipula semua acarya mengenakan rompi naga yang bersayap besar, Mahaguru tentu lebih aman lagi, ini cuma bercanda.
Acarya Dehui sempat menyebutkan bahwa kaisar langit, kaisar bumi, dan kaisar manusia mengatakan bahwa bila tingkat spiritual sadhaka belum mencukupi, ia tidak diperkenankan mengenakan rompi naga. Di samping itu, ada beberapa kesempatan di mana rompi naga boleh dikenakan dan tidak boleh dikenakan. Sebenarnya, solusinya tetap ada. Ketika Anda mengenakan mahkota Pancabuddha di kepala Anda, itu melambangkan Pancabuddha menetap di atas kepala Anda, Pancabuddha menetap di kepala lebih agung daripada rompi naga. Boleh dikatakan, seorang Vajracarya boleh mengenakan mahkota Pancabuddha, bila Pancabuddha sudah menetap di atas kepala seorang Vajracarya, mengapa tidak boleh mengenakan rompi naga? Pancabuddha sangat mulia, rompi naga melambangkan naga di antara manusia. Sementara dewa naga berada di bawah Pancabuddha, bukan berada di atas Pancabuddha. Jadi, ketika Anda mengenakan mahkota Pancabuddha, Anda pun boleh mengenakan rompi naga, ini adalah satu poin yang sangat penting.
Selain itu, juga pernah disebutkan satu poin penting, setiap kali Anda hendak mengenakan rompi naga, walaupun Anda tidak mengenakan mahkota Pancabuddha, Anda harus bervisualisasi Pancabuddha menetap di atas kepala Anda dan memberkati Anda, setelah itu Anda baru memakai rompi naga, dengan demikian memakai rompi naga tidak akan membawa dampak negatif. Oleh karena itu, walaupun sehari-harinya Anda tidak mengenakan mahkota Pancabuddha, namun sewaktu Anda hendak mengenakan rompi naga, Anda hanya perlu bervisualisasi Pancabuddha menetap di atas kepala Anda, seluruh Pancabuddha datang ke atas kepala Anda, maka Anda pun akan terhindar dari musibah mati muda. Oleh sebab itu, Mahaguru memperkenankan semua Acarya dan Dharmacarya mengenakan rompi naga, bukan berarti Mahaguru berharap hanya diri Mahaguru saja yang panjang umur, para Acarya dan para Dharmacarya lebih cepat mampus. (Hadirin tertawa) Bukan! Asal tahu saja, inilah kunci mengenakan rompi naga.
Namun, mengenakan rompi naga masih ditabukan untuk orang biasa yang tidak mengenakan mahkota Pancabuddha. Jika ia adalah Acarya dan Dharmacarya yang mengenakan mahkota Pancabuddha, menurut Mahaguru, tidak bermasalah asalkan Pancabuddha menetap di atas kepalanya. Sebenarnya memang demikian. Jadi, Mahaguru berasumsi bahwa setiap Vajracarya dan Dharmacarya Zhenfozong telah mencapai tingkat spiritual yang sangat tinggi, seharusnya tidak apa-apa mengenakan rompi naga.
Semua Acarya, Dharmacarya, Lama, dan seluruh umat se-Dharma seharusnya sudah jelas, bila tingkat spiritual Anda sudah cukup tinggi, kemampuan Anda sudah cukup tinggi, tentu tidak apa-apa. Anda adalah Acarya, Dharmacarya di mana di atas kepala Anda ada mahkota Pancabuddha, tentu lebih tidak apa-apa, inilah titik berat mengenakan rompi naga.
Mahaguru sangat kagum pada Acarya Dehui, ia sangat konsentrasi melakukan pekerjaannya, contohnya ia mempelajari tentang komputer dan siaran langsung lewat internet, sepertinya ia jarang sekali terlihat makan. Saya dengar bahkan malam pun ia tidak tidur, seluruh perhatiannya terfokus pada komputer dan siaran langsung lewat internet. Mahaguru mendengar dari beberapa orang yang lebih mengerti komputer, Acarya Dehui terus mempelajari pengetahuan komputer, ia belajar dengan penuh konsentrasi. Tidak seperti saya! Mahaguru tidak tahu apa-apa. Mahaguru tidak punya komputer, orang lain bertanya pada saya: Mahaguru, bolehkah saya meminta e-mail Anda? Saya menjawab: saya tidak punya komputer, mana mungkin punya e-mail. Jika Mahaguru punya komputer, punya e-mail, setiap hari saya menjawab pertanyaan Anda, tamatlah riwayat saya.
Asal tahu saja, Mahaguru tidak punya komputer, juga tidak punya telepon genggam. Saya hanya takut satu hal, jika suatu hari nanti, mobil saya rusak di jalan, Mahaguru harus mencari telepon umum, atau meminjam telepon genggam orang lain untuk menghubungi orang agar datang memperbaiki mobil saya atau menyuruh orang datang menderek mobil ke bengkel untuk diperbaiki. Ini adalah satu hal yang Mahaguru kuatirkan. Untung mobil saya masih sangat bagus, sampai hari ini, belum pernah terjadi kerusakan besar, kerusakan kecil tentu tidak terhindarkan. Semoga mobil saya selamanya bebas dari kerusakan.
Mahaguru sangat kagum pada Acarya Dehui, perhatiannya terfokus pada komputer dan setiap hal, semuanya sangat bagus. Hasil kerja Acarya Dehui dalam aspek siaran langsung lewat internet memang menakjubkan, ia juga didukung oleh banyak umat se-Dharma dan pakar komputer. Acarya Dehui benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati. Di samping itu, Mahaguru sangat kagum pada berdiri terbalik yang dilakukan oleh Acarya Dehui, ia dapat berdiri terbalik lama sekali, walaupun di dekatnya ada yang bernyanyi atau bercanda, ia masih bisa tetap berdiri terbalik. Seseorang mengatakan Acarya Dehui main curang, sebab kepalanya datar, kepala Mahaguru justru tajam, tidak bisa berdiri terbalik. Mahaguru juga sangat kagum pada tarian pita yang dibawakan oleh Acarya Dehui, tadinya saya mengira tarian pita yang dibawakannya itu cuma lawak belaka, ternyata ia serius, ia dapat membuat banyak bunga, sungguh terasa melayang-layang. Lagipula tenaganya kuat, tarian pita yang dibawakannya bahkan dapat membuat bunga yang lebih besar dan lebih indah daripada tarian yang dibawakan oleh wanita biasa. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Acarya Dehui adalah hasil konsentrasi. Namun, Mahaguru berharap konsentrasinya kembali pada satu, ibarat Pedang Pusaka Vajra, "kacha", langsung putus, jangan bertele-tele. Jika perlahan-lahan dari satu berubah menjadi dua, berubah menjadi tiga, berubah menjadi sepuluh, berubah menjadi seratus, berubah menjadi tidak terhingga, maka pekerjaan tidak akan selesai selamanya.
Mahaguru berharap Acarya Dehui dapat melatih dirinya hingga menghasilkan semacam kungfu ibarat Pedang Pusaka Vajra yang membabat seikat rami kusut dengan sebilah golok tajam (meluruskan suatu masalah rumit melalui tindakan drastis). Kekuatan konsentrasi dari Acarya Dehui sudah cukup tinggi, tentu saja selain konsentrasi, Acarya Dehui justru terlalu banyak pertimbangan, maksudnya, suatu masalah yang tadinya bisa diatasi dengan sangat mudah, ia bisa membuatnya kacau balau, kemudian ia memilih di antaranya, setelah terpilih, ia pun mengambil yang terpenting, namun waktu sudah lama berlalu. Oleh karena itu, Mahaguru berharap ia berani membabat seikat rami kusut dengan sebilah golok tajam, "kacha" langsung teratasi. Ini akan membawa dampak yang lebih baik terhadap latihan konsentrasinya.
Semua sudah mengerti perihal rompi naga. Semua Acarya dan Dharmacarya mengenakan rompi naga akan terlihat sangat agung dan berwibawa. Ketika kalian hendak mengenakan mahkota Pancabuddha, Anda harus bervisualisasi Pancabuddha menetap di atas kepala Anda, memberkati mahkota Pancabuddha ini, kemudian baru dikenakan. Mahkota Pancabuddha saja boleh dikenakan, apalagi naga di antara manusia.
Bicara tentang konsentrasi, Lama Lian Qing menjelaskan tentang "samadhi", yang namanya "samadhi" adalah samadhi paling awal yang mulai dipelajari oleh sadhaka disebut "dhyana pertama". Ketika Anda dapat berkonsentrasi penuh, disebut dengan "dhyana pertama", yang satu ini sudah sangat sulit. Berikut cara memasuki "dhyana pertama", ketika sadhaka sedang bermeditasi, visualisasikan suatu benda, Anda harus berkonsentrasi pada benda tersebut, misalnya bervisualisasi mata ketiga dari Dewa Vajra, maka Anda cukup bervisualisasi mata ketiga-Nya saja, sadhaka berkonsentrasi penuh pada mata-Nya, bila Anda terus berkonsentrasi tanpa berubah sedikit pun, dapat diam selama beberapa menit, itu sudah sangat luar biasa, sepuluh menit saja tidak berubah sudah sangat luar biasa, kondisi ini sudah hampir mendekati "dhyana pertama", demikianlah "dhyana pertama".
Ketika sadhaka sedang menekuni homa, apakah Anda bervisualisasi adinata bersama dengan Anda? Apakah Anda bervisualisasi api bersama dengan Anda? Di dalam api terdapat sadhaka dan adinata, ini melambangkan Dewa Agni, adinata, dan sadhaka berada di dalam api, bila Anda dapat menekuni Homa dengan cara demikian, Anda justru telah memasuki "dhyana pertama".
Sutra Raja Agung sangat singkat, beberapa menit saja sudah selesai dibaca. Biasanya orang membaca sekali Sutra Raja Agung Avalokitesvara, apakah tidak ketinggalan satu kata pun? Sekarang saya bertanya pada Anda semua: tadi kalian membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara, apakah Anda tidak ketinggalan satu kata pun? Memang mulut mengeluarkan suara, apakah pikiran Anda tidak memikirkan hal yang lain, lalu satu paragraf ketinggalan? Jika tidak ada yang ketinggalan, silahkan angkat tangan sekarang! Oh, ada satu orang angkat tangan.
Dalam waktu yang sangat singkat, kita membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara, membaca semua nama Buddha, membaca "Namo Fo Namo Fa Namo Seng, Foguo Youyuan, Fofa Xiangyin", "Neng Mie Shengsiku Xiaochu Zhu Duhai", demikian juga dengan membaca mantra Pengikis Karma Buruk dari Saptabuddha, tidak ada satu kata pun yang ketinggalan, Anda dapat benar-benar mencamkan setiap kata dalam benak Anda, sangat sulit.
Samadhi sangat sulit, konsentrasi sangat sulit. Guru Zen Nanquan berkata, "Ketenangan adalah kebenaran, ketekunan adalah kebenaran." Pengertian dari ketekunan adalah sadhaka terus berkonsentrasi pada "satu", tidak akan timbul "dua", inilah samadhi. Bila Anda dapat berkonsentrasi saat bekerja, itulah samadhi, bila tingkat konsentrasi Anda sudah tinggi, itulah "dhyana pertama"; memasuki "dhyana kedua", pikiran Anda sama sekali tidak berubah; memasuki "dhyana ketiga", Anda akan melihat semua fenomena hal ikhwal, semua wujud asli akan muncul di dalam "dhyana ketiga"; memasuki "dhyana keempat", pikiran Anda tidak ada lagi sama sekali, ketenangan dan kepadaman sepenuhnya (nirvana).
Bagi Anda mungkin samadhi kelihatannya gampang, setiap kali kita kebaktian dikatakan "memasuki samadhi", lalu Sembilan Tahap Pernapasan Buddha pun dimulai, tahap pertama, tahap kedua, tahap ketiga, tahap keempat..... tahap ketujuh sampai tahap kesembilan. Mengapa Anda semua diminta melatih Sembilan Tahap Pernapasan Buddha? Sebab Sembilan Tahap Pernapasan Buddha justru mengajarkan Anda "dhyana pertama"! Bila pikiran Anda sebagai sadhaka dapat terus fokus pada pernapasan Anda, masuk dari sini keluar dari situ (pernapasan) berputar ke sana, kemudian masuk dan keluar lagi, kemudian masuk dari kedua sisi sampai ke atas, (lubang ubun-ubun) jangan sampai tembus, kemudian keluar dari lubang hidung, selanjutnya gantian lagi, 9 kali berturut-turut, semua ini justru sedang melatih potensi samadhi Anda.
Bila Sembilan Tahap Pernapasan Buddha terus ditekuni, asalkan berlatih setengah jam saja, itu sudah sangat bagus! Fenomena konsentrasi pun muncul, Anda pun bisa memasuki tahap tidak terpengaruh. Pada umumnya, jarang sekali Sembilan Tahap Pernapasan Buddha dapat dilakukan secara lengkap. Sekarang saya bertanya pada Anda semua, siapa di antara kalian yang melakukan Sembilan Tahap Pernapasan Buddha pada saat kebaktian, Anda benar-benar melakukan visualisasi yang sangat lengkap, prana masuk lalu keluar kemudian masuk lagi, kemudian keluar lagi, 9 tahap berturut-turut, Anda sama sekali tidak memikirkan yang lain, malah pikiran Anda bergerak sesuai prana, silahkan angkat tangan. Ada dua orang. Ini saja sudah sangat lumayan.
Bagaimana melatih samadhi? Biasanya dhyana pertama, sadhaka bisa stabil dalam waktu 7 hingga 10 menit, sama sekali tidak memikirkan yang lain, itu sudah sangat lumayan. Banyak cara dan manfaat samadhi, samadhi tidak berarti mencapai kebuddhaan, namun lewat samadhi kita dapat memperoleh pengetahuan mencapai kebuddhaan, prajna Buddha bisa diperoleh lewat samadhi. Oleh karena itu, seorang sadhaka harus menekuni samadhi. Sebab, samadhi sangat penting. Samadhi membuat pikiran Anda tidak galau. Sebab, begitu pikiran manusia galau, ia tidak dapat melakukan samadhi lagi, begitu pikiran galau, hal apapun tidak akan berhasil.
Untuk mencapai keberhasilan dalam belajar Agama Buddha harus "stabil, "stabil berasal dari "sila. Bila mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran berhenti, barulah bisa "stabil, karena dengan adanya "kestabilan, seseorang baru akan menghasilkan kebijaksanaan mencapai kebuddhaan; dengan adanya kebijaksanaan mencapai kebuddhaan, seseorang baru dapat memahami hati dan menyaksikan Buddhata di alam samadhi. Sampai dhyana keempat, walaupun belum dapat dianggap mencapai kebuddhaan, namun sadhaka datang dan pergi seperti ini, dari dhyana pertama, dhyana kedua, dhyana ketiga, dhyana keempat, dari dhyana keempat, dhyana ketiga, dhyana kedua, dhyana pertama, selanjutnya keluar dari samadhi, bila Anda datang dan pergi seperti ini, benih kebiasaan buruk dari sadhaka akan hilang dengan sendirinya.
Sekali benih kebiasaan buruk dari sadhaka hilang, dengan sendirinya sadhaka akan mencapai keberhasilan, Tathata akan muncul, Buddhata pun benar-benar muncul. Oleh karena itu, samadhi juga disebut "dhyana keharuman", "dhyana keharuman" merujuk pada sadhaka terus mengasapi sifat dan kebiasaan yang tidak baik dengan keharuman, mengasapi bau yang tidak sedap, maka sifat dan kebiasaan yang baik pun akan muncul. Lewat samadhi, sadhaka bisa memperoleh banyak Dharma, banyak Dharma Tantra diperoleh lewat samadhi. Baik tradisi Sutra, tradisi Tantra, maupun non Buddhisme, semuanya wajib menekuni samadhi. Samadhi sangat penting. Dhyana keharuman sangat nyata. Sakyamuni Buddha pun telah mengalami dhyana pertama, dhyana kedua, dhyana ketiga, dhyana keempat, sampai akhirnya Beliau memperoleh pencerahan agung, barulah mengetahui apa itu Tathata, mengetahui apa itu Buddhata.
Sadhaka perlu memasuki samadhi dalam mengerjakan hal apapun. Tidak hanya meditasi saja baru disebut sebagai samadhi. Contohnya, Acarya Dehui sedang mempelajari komputer, berarti ia sedang memasuki samadhi; menarikan tarian pita, berarti ia sedang memasuki samadhi; sewaktu ia sedang berdiri terbalik, berarti ia sedang memasuki samadhi. Berdiri terbalik justru lebih membutuhkan konsentrasi, tubuhnya harus sangat seimbang, ia konsentrasi pada keseimbangannya, begitu ia berdiri terbalik 7 hingga 10 menit, berarti ia telah memasuki dhyana pertama; berdiri terbalik setengah jam, berarti ia telah memasuki dhyana kedua. Asal tahu saja bahwa samadhi dan tidur sangat mirip, samadhi agak menyerupai tidur. Biasanya orang tidur dalam keadaan berbaring, mata terpejam, ruangkan sedikit gelap, tanpa suara, entah apa yang terjadi, tiba-tiba sudah tertidur! Demikian juga dengan samadhi.
Ketika perhatian Anda sedikit terpusat, sadhaka tidak menghiraukan lagi kejadian di sekitarnya, semua kerisauan dilupakan, dilupakan, dilupakan, apapun dilupakan, Anda pun telah memasuki kondisi samadhi. Oleh karena itu, sungguh sulit mengajarkan Anda samadhi. Sebab Anda sendiri bahkan tidak tahu bagaimana Anda tidur, sungguh, bagaimana manusia tidur! Yaitu berbaring lalu mata terpejam, jika ada kerisauan Anda tidak bisa tidur. Asal tahu saja, bila ada kerisauan Anda tidak bisa tidur, Anda berpikir banyak hal juga membuat Anda sama sekali tidak bisa tidur; lalu bagaimana Anda bisa tertidur. Anda pun tidak bisa menjelaskannya!
Bagaimana Mahaguru samadhi? Saya juga tidak bisa menjelaskannya. (Hadirin tertawa) Tentu ada caranya! Anda harus berkonsentrasi pada satu, yaitu konsentrasi pada satu hal, tiba-tiba Anda sudah masuk, Anda pun mencapai kondisi lupa diri. Lupa diri masih belum termasuk samadhi yang sesungguhnya, lupa diri masih sebatas baru mulai saja. Makanya, banyak cara bagi kita belajar Agama Buddha, Anda semua tahu tiga jenis pelajaran anasrava dari sila, samadhi, dan prajna.
Mahaguru mengerjakan hal apapun dengan sangat serius, contohnya saya memperagakan Tinju Taiji, saya melakukannya dengan sangat serius. Sungguh! Saya terus memikirkan bagaimana memperagakannya. Bagaimana mengapresiasikan diri ke dalam musik. Bagaimana memperagakan gerakan tangan dan kaki. Bagaimana supaya gerakannya bagus. Mahaguru terus memikirkannya, sehingga perhatian saya sangat terpusat. Demikian juga dengan hal lain yang Mahaguru lakukan, perhatian saya sangat terpusat, saya mau lepas langsung lepas, saya mau berhenti langsung berhenti. Ini semua adalah kondisi memasuki samadhi.
Oleh sebab itu, ajaran Tantra memiliki banyak cara memasuki samadhi. Misalnya bersadhana, kalian harus memusatkan perhatian Anda, dari awal hingga sadhana selesai, "Om Bulin". Kemudian, japa tiga kali Mantra Sataksara, yakni menambal kekurangan atau pikiran beralih ke tempat lain selama menekuni satu kali sadhana. Pada prinsipnya, inilah manfaat menjapa Mantra Sataksara. Jadi, selama sadhaka menekuni satu kali sadhana, Anda dapat memusatkan pikiran Anda dari awal hingga akhir tanpa ketinggalan satu kata pun, tanpa ketinggalan satu pikiran pun, tanpa ketinggalan satu visualisasi pun, sadhaka memang sedang menekuni sadhana ini, jika pikiran tidak bercabang, itu sangat luar biasa. Berarti sadhana tersebut adalah pemberkatan dari adinata. Barusan kita menjalankan satu kali kebaktian, apakah kalian berhasil mencapai kondisi di mana satu pikiran pun tidak berubah?
Sang Buddha sangat luar biasa, Beliau duduk sangat lama di bawah Pohon Bodhi, pikiran-Nya terus terpusat. Ada sesosok dewa di bawah Pohon Bodhi, namanya Raja Pohon Bodhi, ketika Sang Buddha keluar dari samadhi, Beliau melakukan percakapan dengan Raja Pohon Bodhi, Sang Buddha mengatakan pada Raja Pohon Bodhi bahwa selama berhari-hari, pikiran Sang Buddha tidak berubah sedikit pun. Dipikir-pikir, mencapai kebuddhaan tidaklah mudah, hanya samadhi saja membuat sadhaka menekuninya selama turun temurun. Sakyamuni Buddha bahkan pernah terlahir menjadi Dewa Ksanti selama 500 kehidupan, menurut Anda selama apakah itu? Daya samadhi yang dihasilkan Sang Buddha sangat luar biasa. Semoga dalam tahap menjalankan bhavana, semua orang dapat meneladani semangat dari Sakyamuni Buddha, latihlah potensi samadhi dengan sebaik-baiknya. (Hadirin tepuk tangan) Om Mani Padme Hum.

Sumber : www.tbsn.org

Empat Penyebab Seseorang Kehilangan Keyakinan

(Ceramah Y.M. Buddha Hidup Lian Sheng pada kebaktian rutin Hari Sabtu tanggal 14 Juli 2007 di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle)


Sembah sujud kepada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa Karmapa XVI, dan Guru Thubten Dhargye.
Guru Dhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita, para umat se-Dharma, selamat malam semuanya. (hadirin tepuk tangan)
Malam ini kita mendengarkan Lama Jiuru bercerita tentang perjalanan ke Indonesia; Acarya Lian Jie bercerita tentang memohon Buddha menetap di dunia.

Mahaguru Melakukan Ritual Memohon Hujan
Dewa Naga Mengerahkan Awan dan Menurunkan Hujan

Lama Jiuru lebih dulu menyampaikan tentang "panas, semua orang pun tahu bahwa bumi ini pelan-pelan mengalami pemanasan global, semoga suatu hari nanti, sinar matahari agak hangat, jangan seterik ini, maka kehidupan kita akan membaik. Bicara tentang panas, Mahaguru sangat memperhatikan perubahan cuaca, kadang-kadang, saya menonton berita di CHANNEL 2 dari TV kabel Northwest, sering ada laporan cuaca selama seminggu penuh. Saya menonton dari tanggal 6 Juni hingga seminggu penuh, semuanya cerah, seminggu kemudian saya nonton lagi, cuaca selama seminggu penuh masih saja cerah, tidak turun hujan. Pada tanggal 12, hari terpanas di Seattle, di langit sama sekali tidak ada awan, matahari terik sekali.
Kalau sudah panas, panasnya luar biasa sekali. Pada tanggal 12 Juli, Acarya Lian Ning berkata pada Mahaguru: tanggal 13 akan turun hujan! Saya pikir, aneh, laporan cuaca CHANNEL2 dari TV Kabel Northwest jelas-jelas mengatakan bahwa selama seminggu penuh adalah cerah, selama dua minggu penuh terik matahari, tidak turun hujan. Ketika Mahaguru sedang makan malam sempat bertanya pada Acarya Lian Ning: mengapa Anda bisa tahu bahwa hari Jumat akan turun hujan? Apakah Yaochi Jinmu yang memberitahu Anda? Acarya Lian Ning tidak menjawab, ia berdiri, he he he, tertawa dingin sebentar, lalu ia pun pergi mengambil lauk. (hadirin tertawa) Ia berikan saya sebuah masalah pelik! Dalam hati saya berpikir, Acarya Lian Ning sedang menguji Mahaguru apakah Mahaguru mempunyai kemampuan untuk memohon hujan, karena Acarya Lian Ning mengatakan bahwa jika besok tidak turun hujan, berarti memalukan Yaochi Jinmu.
Sepulangnya Mahaguru malam itu, saya pikir karena saya mengatakan akan turun hujan, saya pun menjalankan ritual Tantra, mencoba-coba ilmu Tantra. Saya memasang altar memohon hujan di depan mandala, cara memasang altar memohon hujan ini tidak boleh dibocorkan, sebab bila dibocorkan, semua orang memohon hujan, dan bencana banjir yang akan terjadi.
Mahaguru memasang altar memohon hujan sendirian di depan mandala, saya juga tidak cerita pada Guru Dhara, saya hanya cerita padanya keesokan paginya bahwa saya melakukan ritual memohon hujan. Untuk memasang altar memohon hujan dibutuhkan kain hitam yang digunting menjadi kain perca, kemudian tiup kain perca tersebut dengan kuat ke angkasa, saya hanya membocorkan salah satu rumusnya saja. Kain hitam ditebarkan ke angkasa artinya diselimuti awan mendung, terlebih dahulu membentuk mudra mengundang. Mahaguru mengundang Dewa Naga dari Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle. Setelah membentuk mudra penunjuk, kemudian baca mantra, mantra ini gampang sekali diingat, kalian boleh mendengarkan mantra ini, apa bunyi hujan? Biasanya bunyi hujan ditulis dengan kata Xili Xili, jadi "Xili Xili Xili Xili. Ga" itulah mantra memohon hujan. Baca mantra ini harus sambil memutar badan – memohon hujan, angin, petir, dan guntur. Pada tanggal 13 pagi, yaitu kemarin, Jumat pagi, saya tidak tahu apakah di Vancouver hujan atau tidak? (siswa Vancouver menjawab: ada petir, guntur, dan awan mendung, serta turun hujan gerimis) Mahaguru menjalankan ritual! Saya memutar tubuh saya makin lama makin cepat, saya membentuk mudra penunjuk berturut-turut: "Mahaprajnaparamita, Om Mani Badami Hum, Chuli, Jiji Rululing, Xie!" Tanggal 13 pagi, begitu saya membuka mata saya, saya tidak melihat matahari, tapi awan mendung yang menyelimuti langit, makin lama makin padat, awalnya angin bertiup kencang kemudian diikuti dengan kilat, selanjutnya halilintar bergemuruh, akhirnya turun hujan. (hadirin tepuk tangan)
Mahaguru membuka laporan cuaca di CHANNEL2 dari TV Kabel Northwest, pegawai laporan cuaca itu menampilkan ekspresi wajah yang tidak berdaya, anicca (ketidakkekalan)! Cuaca tidak bisa diduga! Berita melaporkan bahwa sepanjang minggu ini adalah cerah, tidak turun hujan. Ketika makan malam tanggal 13, Mahaguru bertanya pada Acarya Lian Ning: mengapa Anda yakin bahwa tanggal 13 akan turun hujan? Acarya Lian Ning juga tidak menjawab hanya – he he he! Mahaguru mengatakan benar-benar akan turun hujan maka hujan benar-benar turun, Acarya Lian Jie mengatakan ada petir, angin, guntur juga turun hujan, semuanya ada.

Nagarjuna Bodhisattva Menjelaskan Tentang Penyebab Seseorang Kehilangan Keyakinan

Lama Jiuru bercerita tentang pengalamannya selama membabarkan Dharma di Indonesia, ada beberapa masalah yang ingin Mahaguru sampaikan pada kalian. Nagarjuna Bodhisattva mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mempunyai pikiran yang baik, mempunyai akar yang baik, namun mengapa manusia bisa kehilangan keyakinannya? Ada penyebabnya, pada dasarnya para insan mempunyai Buddhata, begitu bertemu dengan Buddhadharma mereka akan percaya, namun para insan juga bisa kehilangan keyakinannya, mengapa? Bukan hanya orang biasa saja bisa kehilangan keyakinan, bahkan Dharmaduta pun bisa kehilangan keyakinan.
Pertama, kekuatan keyakinannya tidak bisa mengalahkan godaan uang. Nagarjuna Bodhisattva mengatakan bahwa seorang Dharmaduta memang mempunyai keyakinan, namun kekuatan keyakinannya tidak mampu mengalahkan godaan uang, dengan kata lain kekuatan uang lebih besar daripada kekuatan keyakinannya. Bersadhana adalah semacam komitmen jangka panjang, belum tentu kita bisa segera melihat dan menyaksikan, namun godaan uang sangat kuat, melebihi kekuatan keyakinan, ketika godaan uang datang, bukan hanya umat biasa kehilangan keyakinan, bahkan Dharmaduta pun kehilangan keyakinan. Mohon semua umat se-Dharma perhatikan hal yang satu ini. Buddhadharma sungguh sulit sekali terdengar, bila kita telah menemukan Buddhadharma, kita jangan sampai kehilangan keyakinan kita, sehebat apapun uang menggoda kita, sebagai sadhaka seharusnya mendapatkan uang dengan cara yang benar. Lama Jiuru bercerita tentang orang yang melakukan penipuan dengan memanfaatkan nama Mahaguru atau memanfaatkan nama apapun, semua ini tidak baik.
Kedua, menurut Nagarjuna Bodhisattva bahwa penyebab kehilangan kepercayaan adalah "benci dan cinta". Kita selalu mengira bahwa cinta adalah cinta, benci adalah benci. Namun kita tidak pernah tahu bahwa sesungguhnya cinta sama dengan benci, cinta dan benci adalah sama. Semakin dalam cinta, semakin dalam pula kebencian, cinta dan benci adalah dua hal yang dapat membuat seseorang kehilangan keyakinannya. Misalnya mata Mahaguru tidak memandang Anda, Anda tiba-tiba kecewa, lalu Anda pun kehilangan keyakinan Anda, Mahaguru akan sedih karenanya.
Mahaguru memandang semua insan adalah sederajat. Jadi sebagai sadhaka harus bersikap wajar terhadap cinta dan benci, dipikir-pikir, cinta itu sangat sementara; memang, seketika itu sangat benci! Tapi setelah waktu telah lama berlalu, kebencian pun akan berkurang, kebencian juga sementara. Sadhaka harus merenungkan bahwa cinta maupun kebencian adalah fenomena yang sementara.
Sebenarnya cinta dan benci adalah sementara, cinta adalah sementara, benci juga sementara, jadi jangan sampai Anda kehilangan keyakinan Anda. Kalian semua bersadhana bersama-sama di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle, ada yang suka dengan siapa, ada yang tidak suka dengan siapa, semua ada di sini, tapi kita harus bersikap sewajarnya saja, jangan mengambil langkah ekstrim. Kita harus jaga keyakinan kita, jangan karena kita benci dengan seseorang, kita lantas beranjak pergi: jangan karena kita menyukai seseorang dan kita tidak mendapatkan cintanya, kita pun beranjak pergi. Jangan sampai terjadi, sebab Buddhadharma sulit terdengar. Sadhaka tidak cocok dengan suatu perkumpulan, lantas meninggalkan perkumpulan itu dan tidak pernah datang lagi, itu tidak baik.
Ketiga, tidak bijaksana dalam membedakan. Mahaguru mengajarkan siswa Mahaguru berbuat baik, Dharma Tantra Zhenfozong kita sangat luar biasa. Mahaguru tidak pernah mengajarkan siswa-siswa Mahaguru untuk mencuri, berzinah, berdusta, dan mabuk-mabukan. Jadi, seorang siswa harus bijaksana dalam membedakan, jangan asal mendengar komentar negatif tentang guru Anda, lalu Anda kehilangan keyakinan Anda. Itu sangat disayangkan. Anda hanya dapat melihat satu sisi saja, akibatnya Buddhadharma yang sejati tidak dapat Anda dengarkan lagi, Anda tidak mempunyai kebijaksanaan untuk membedakan apakah guru Anda benar-benar memiliki Dharma sejati, dapat menuntun Anda terlahir di alam suci, dan mencapai Buddhaloka.
Anda hanya melihat permukaan saja, bahwa Mahaguru mengendarai mobil yang sangat mewah, Wah! Mahaguru sangat royal. Anda harus pikir, darimana mobil itu berasal. Mobil itu persembahan dari seorang saudari se-Dharma. Kalau orang lain sudah persembahkan saya sebuah mobil, saya tidak kendarai juga kurang baik. Mahaguru adalah seorang yang sangat hemat, mobil tahun 1999 itu saya kendarai hingga tahun 2007. Mobil itu masih belum mencapai 10000 km. Mobil Infinity Guru Dhara itu dibeli tahun 2004, sekarang sudah mencapai 18000 km. Mobil Mahaguru yang dibeli tahun 1999 sampai sekarang baru 8000 km. Mahaguru juga tidak punya supir, saya menyetir sendiri. Saya sangat menghargai mobil ini, sebab mobil ini adalah persembahan dari siswa saya.
Kadang-kadang, siswa melihat jam tangan saya adalah rolex berlian, terus terang jam tangan ini adalah hadiah dari saya buat ayah saya, rolex berlian dari emas putih ini adalah persembahan dari saya untuk ayah saya. Kali ini kepulangan saya ke Taiwan, ayah saya membeli sebuah jam tangan berlian, kemudian memberikan jam tangan saya kepada Upasaka Wang. Upasaka Wang pikir jam tangan ini adalah pemberian ayah saya, jadi ia seharusnya mempersembahkannya kepada Mahaguru, waktu itu Mahaguru langsung melepaskan jam tangan yang tadinya saya pakai kemudian saya berkata kepada Upasaka Wang: Anda persembahkan saya sebuah jam tangan rolex, saya juga persembahkan Anda sebuah jam tangan berlian. Sekarang saya baru tahu setelah mengenakan jam tangan pemberian Upasaka Wang, bahwa jam tangan ini bermasalah, karena jam tangan ini tidak bisa otomatis ganti tanggal, misalnya hari ini tanggal 14, pada pukul 12 malam ini saya harus putar jam ini menjadi tanggal 15, pada tanggal 15 malam saya harus putar lagi menjadi tanggal 16. Jam tangan yang Mahaguru berikan pada Upasaka Wang adalah jam tangan kalender berlian dari emas putih, tanggal jam tersebut sangat tepat dan akan ganti tanggal secara otomatis, hasilnya saya barter dengan sebuah jam tangan yang lebih jelek.
Asal tahu saja, Mahaguru tidak merasa rugi, saya selalu merasa bahwa rugi itu justru mengambil keuntungan dari orang lain. Bila orang lain mempersembahkan Mahaguru sebuah jam tangan, saya akan balik memberikannya sebuah jam tangan. Misalnya bila kedua cincin di tangan saya ini tidak saya pakai, orang akan menangis, yang satu adalah persembahan dari Acarya Lian Ning, satu lagi adalah persembahan dari Acarya Lian Jie, karena mereka berdua sering memperhatikan jari saya, jadi saya harus memakainya untuk diperlihatkan pada mereka. Bukan berarti Mahaguru royal, saya sangat hemat! Sepanjang hidup Mahaguru hanya pernah membeli sebuah berlian untuk dihadiahkan pada Guru Dhara, yang saya berikan pada saat kami menikah, karena waktu itu saya tidak punya uang, saya hanya dapat memberikannya sebuah cincin yang sangat kecil yang tidak sampai 1 karat, saya tidak tahu apakah Guru Dhara masih menyimpannya atau tidak, karena saya tidak pernah melihatnya memakai cincin tersebut.
Jadi kalian harus bijaksana dalam membedakan, Mahaguru sangat hemat, kalian harus dapat membedakannya, coba kalian pikirkan, Mahaguru tidak menggunakan kartu kredit, pengeluaran saya satu-satunya adalah mengisi bahan bakar, saya tidak pernah belanja, saya tidak menambah barang apapun buat diri saya, saya mana royal. Sekarang Mahaguru tinggal di rumah Arama Nanshan, karena rumah ini lebih tersembunyi, jika Anda pergi ke rumah saya pada malam hari, rumah saya tidak ada lampunya, karena saya mau hemat listrik, nonton TV sekalipun saya tidak menyalakan lampu, karena cahaya lampu TV sudah cukup, saya sangat hemat, hemat air, hemat listrik, juga hemat tisu. Misalnya orang lain memakai tiga lapis tisu gulung, saya hanya pakai selapis, kemudian selembar dilipat menjadi tiga lapis. Saya hemat tisu.
Mengenai desas-desus di kalangan luar, kalian simak saja perlahan-lahan, sifat Mahaguru cenderung suka bercanda, namun saya sama sekali tidak berani berdusta atau membual! Kadang-kadang saya bercanda. Jika Anda tidak datang lagi mendengarkan Buddhadharma karena mendengar desas-desus dari kalangan luar, itu sangat disayangkan. Inilah yang ketiga – harus bijaksana dalam membedakan. Jika sadhaka tidak bijaksana dalam membedakan, Anda sama sekali tidak tahu siapa MahaLama yang benar-benar memiliki Dharma sejati dan siapa pula dukun! Mahaguru bersadhana dan bermeditasi setiap hari, mengapa? Karena saya tahu Buddhdharma sangat sulit terdengar, Mahaguru setiap hari melafalkan Sutra Raja Agung dan nama Buddha, tiada hari tanpa bersadhana dan bermeditasi, saya tidak melakukannya untuk dilihat orang lain, hanya langit yang tahu. Setiap kali Mahaguru bernamaskara pada mandala dengan push-up, saya melakukannya di rumah saya, siapa yang lihat! Sesekali Guru Dhara juga melihat saya melakukan push-up atau Mahanamaskara, Beliau melihat atau tidak, Mahaguru tetap lakukan setiap hari, saya bicara jujur.
Mahaguru memahami pikiran, benar-benar memahami pikiran, benar-benar bermeditasi, di dalam meditasi saya benar-benar melihat Buddhata – memahami pikiran dan menemukan jati diri; kelak Mahaguru akan mengajari kalian bermeditasi, bagaimana cara melihat Buddhata sendiri!
Keempat, penyebab lain seseorang kehilangan keyakinan menurut Nagarjuna Bodhisattva adalah "amarah. Amarah adalah mengumbar kemarahan, amarah akan membuat seseorang kehilangan keyakinan, jadi setiap sadhaka harus memperhatikan tutur kata dan perbuatannya sendiri, bila hari ini Anda marah besar pada seorang umat se-Dharma, umat se-Dharma tersebut akan tidak tahan lalu kehilangan keyakinannya; seorang Dharmaduta harus memperhatikan emosinya sendiri, jangan marah-marah; sebab ini akan mengundang komentar negatif dari orang-orang kalangan luar bahwa Dharmaduta Zhenfozong tidak mempunyai pembinaan diri yang baik, ia pasti tidak melatih diri. Hal ini akan menyebabkan orang lain kehilangan keyakinan, jadi seorang Dharmaduta tidak boleh sembarangan marah-marah, harap diperhatikan, ini adalah auman singa. (hadirin tertawa)
Bila Acarya Lian Ning mau mengeluarkan auman singa, sebenarnya Anda boleh menyampaikan alasan Anda dengan suara yang lembut, dengan cara menasihati, jangan pernah membuat orang kabur karena auman Anda. Orang bisa kabur karena auman singa, lalu bagaimana dengan saya? Zhenfo Miyuan pun kosong. Masih banyak Dharmaduta atau Lama yang menggunakan auman singa, marah-marah, bila sampai dilihat oleh umat se-Dharma lain, mereka akan merasa bahwa Lama kita tidak bersadhana dengan baik, kurang sabar.
Anda harus mengutarakan alasan Anda dengan suara yang sangat lembut, bila Anda murka justru akan menyebabkan orang lain semakin tidak percaya pada Buddhadharma. Itu karena pembinaan diri Anda masih kurang, seorang sadhaka sering mengajari orang lain bersadhana, namun dirinya sering pula marah-marah, bagaimana orang lain bisa bersadhana bersama Anda atau menuruti Anda, justru sebaliknya akan membuat orang lain kehilangan keyakinan. Ini adalah penyebab seseorang kehilangan keyakinan menurut Nagarjuna Bodhisattva, pertama adalah "keserakahan; kedua adalah "cinta dan benci, ketiga adalah "bijaksana dalam membedakan, keempat adalah "amarah.

Memohon Buddha Menetap di Dunia
Menuntun Para Insan Menuju Kebuddhaan

Acarya Lian Jie menjelaskan tentang Memohon Buddha Menetap Di Dunia, ini sangat baik, Beliau telah menjelaskan dengan sangat detil. Mengapa kalian harus percaya? Karena pada diri kalian terdapat akar, akar justru berasal dari jodoh, dan akar tersebut akan tumbuh tunas, tumbuh menjadi batang pohon, bercabang, berbunga, kemudian berbuah. Ada Acarya yang mengajari kalian bagaimana menempuh jalan tersebut, yakni dari "akar ke "jalan, "jalan adalah metode melatih diri; seorang sadhaka dapat mencapai pantai seberang lewat metode melatih diri, inilah "buah, karenanya Agama Buddha menjelaskan tentang "akar, "jalan, dan "buah. Walaupun sadhaka mempunyai akar kebajikan, namun kalian juga harus memiliki Acarya, Lama, atau Dharmacarya yang menuntun kalian cara bersadhana, cara ini disebut dengan "jalan.
"Jalan, menuntun sadhaka menempuh jalan menuju pantai seberang. Ini adalah tanggungjawab seorang Dharmaduta, pada akhirnya Anda akan memperoleh "buah, memperoleh buah keberhasilan, jadi "akar, jalan, buah, keberhasilan, beberapa poin ini tidak boleh kurang dalam bersadhana. Maksud dari Memohon Buddha Menetap di Dunia yang dijelaskan oleh Acarya Lian Jie adalah memohon seluruh Acarya dan Dharmaduta agar menetap di dunia, menuntun semua orang menempuh jalan mencapai pantai seberang, disebut sebagai "jalan; demi ini, kita memohon Buddha menetap di dunia, demi ini, kita berharap setiap Dharmaduta panjang umur, menetap di dunia. Bagus sekali ceramah yang barusan Lama Jiuru sampaikan bahwa ia sangat lelah membabarkan Dharma di Indonesia, ceramahnya sangat bagus, jadi kita harus mengundang Lama Jiuru menetap di dunia, ia harus panjang umur, membebaskan lebih banyak insan lagi; kita harus memohon Acarya Lian Jie menetap di dunia, bila Beliau menetap lebih lama lagi di dunia, Beliau dapat membimbing Anda semua terlahir di pantai seberang; kita harus memohon Acarya Lian Ning menetap lebih lama lagi di dunia, Beliau dapat membimbing para insan menuju pantai seberang dengan tutur kata yang lembut dan Buddhadharma yang sejati, (hadirin tepuk tangan) terakhir saya juga mau memohon seluruh Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, semua umat se-Dharma menetap di dunia lebih lama lagi, Anda semua dapat membabarkan Buddhadharma, bimbinglah para insan melalui jalan kebenaran dari Sang Buddha ini. Terima kasih semuanya. Om Mani Padme Hum.

Sumber : www.tbsn.org

Seseorang Akan Mencapai Pembebasan Melalui Penekunan yang Konsisten

(Ceramah Y.M. Buddha Hidup Lian Sheng pada kebaktian rutin malam minggu tanggal 21 Juli 2007 di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle)


Sembah sujud kepada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa Karmapa XVI, dan Guru Thubten Dhargye. Guru Dhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita, para umat se-Dharma, selamat malam semuanya. (hadirin tepuk tangan)
Sebelumnya kita mendengarkan Acarya Lian Shi bercerita tentang kegiatan sosial yang diadakan di Malaysia dengan bekerjasama dengan Vihara Lian Yuan; sementara Lama Lian Xu berceramah tentang menaklukkan jiwa dan raga. Acarya Lian Shi mengangkat topik tentang berdana, Beliau sering kali mengangkat tema uang, juga sempat menyebutkan bahwa Mahaguru adalah Mahaberkah Vajra. Mahaberkah yang Mahaguru miliki di dunia ini hanya setitik air, mahaberkah saya yang sesungguhnya ada di surga, dan setitik air ini tidak bisa Mahaguru bawa setelah Mahaguru mangkat. Sudah pernah dikatakan kepada Anda, dari dulu sampai sekarang, Mahaguru tidak pernah melihat seorang pun yang pernah membawa sepeser pun uang ke surga, tidak pernah ada!

Seseorang yang Belajar Jalan Bodhisattva Wajib Melakukan Amisa-dana, Dharma-dana, dan Abhaya-dana

Seorang Arya Sangha sejati mengganggap uang bukan apa-apa. Seorang sadhaka sejati, baik Mahayana, Hinayana, atau Vajrayana harus memandang uang sebagai racun. Sebab bila seorang sadhaka melekat pada uang, Anda pasti tinggal di dunia ini, hanya dengan tidak melekat pada uang, Anda baru dapat memperoleh kebenaran – kebijaksanaan Tathagata.
Mengapa diturunkan sadhana Jambhala atau Dewa Rejeki? Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah para insan. Seorang awam akan merasa puas bila merasakan keberadaan uang, kemudian menuntunnya ke arah kebenaran agung yang sejati, yakni mengejar tingkat kebijaksanaan tertinggi secara spiritual. Inilah kehendak dari Buddha. Sehingga banyak metode kemudahan di dalam ajaran Tantra.
Mahaguru pernah mengatakan bahwa Mahaguru tidak kagum dengan orang kaya. Ada satu hal yang tidak pernah Mahaguru lakukan, saya sama sekali tidak pernah meminta uang dari orang lain, Mahaguru Lu tidak akan pernah meminta uang pada siswa saya sendiri atau para acarya, Lama/ni, atau siapapun juga. Jika ada yang mengatakan bahwa Mahaguru menghendaki rumah, mobil, dan lain sebagainya. Itu sama sekali bukan kehendak saya. Itu justru perbuatan orang lain yang meminjam nama saya untuk menipu lahan orang lain. Shengji (penanaman benda-benda keramat dari diri seseorang untuk tujuan tolak bala) yang Mahaguru adakan tidak memasang tarif, semuanya sukarela! Tidak bayar pun tidak apa-apa. Memasang altar roh janin pun tidak memasang tarif, semuanya sukarela! Upacara yang Mahaguru adakan bersifat sukarela! Tidak pernah memasang tarif. Yang memasang tarif adalah keputusan dari para acarya, atau Lama/ni atau umat se-Dharma. Bukan permintaan saya. Karena demikian, saya tidak pernah kekurangan apapun. Kelak Mahaguru juga akan membangun sebuah Yayasan Amal, saya akan mengembalikan kepada bumi ini semua yang menjadi milik bumi ini, dan kepada insan semua yang menjadi milik insan. (Hadirin tepuk tangan)
Hari ini Acarya Lian Shi berceramah tentang semangat dan makna utama dari berdana, sadhaka semakin berdana, berkah Anda semakin besar. Semakin Anda tidak mau berdana, semakin Anda pelit, berkah pun semakin kecil.
Di dalam Buddhadharma terdapat Amisa-dana, yakni mengeluarkan uang untuk membantu orang yang layak dibantu; Dharma-dana, menyampaikan kebijaksanaan Tathagata yang diketahui oleh seorang sadhaka kepada orang lain; dan Abhaya-dana, sadhaka dapat berkorban sepenuhnya, semangat ini sangat mulia. Semangat Sang Buddha ini disebut dengan membangkitkan mahabodhicitta, Sang Buddha dapat mengorbankan segala sesuatu pada dirinya demi orang lain, demi para insan, bukan demi diri sendiri, ini barulah bodhicitta yang teragung yang dimiliki oleh seorang bodhisattva. Inilah Abhaya-dana.
Hari ini bagi yang mengambil Bodhisattva-sila dan belajar menjadi seorang bodhisattva, Anda wajib melakukan Dharma-dana, Amisa-dana, dan Abhaya-dana. Di saat bersamaan, sasaran dana Anda tidak membedakan hubungan kekeluargaan, bukan karena orang itu adalah keluarga sendiri Anda baru berdana! Tadi Acarya Lian Shi sempat menyebutkan bahwa berdana jangan membedakan suku maupun hubungan kekeluargaan, ini termasuk berdana dalam skala lebih besar.
Siapapun menginginkan uang, bukan hanya Acarya Lian Shi saja, hampir setiap orang pun menginginkan uang. Namun, bila Anda menginginkannya, Anda justru tidak akan mendapatkannya. Sebaliknya bila Anda tidak menginginkannya, Anda justru akan mendapatkan uang. Aneh sekali. Bila Anda berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya, Anda justru tidak mendapatkannya. Bila seorang sadhaka berusaha keras, namun melakukannya tanpa mengharapkan imbalan, Anda justru akan mendapatkannya. Agama Buddha mengatakan bahwa berkah akan datang dengan sendirinya bila sadhaka membangkitkan bodhicitta terlebih dahulu; bila seorang sadhaka hanya menginginkan uang saja tanpa membangkitkan bodhicitta, permohonan Anda akan sia-sia saja. Jadi, bagi yang mau memohon rejeki, ingat membangkitkan bodhicitta terlebih dahulu.
Dalam menekuni Sadhana Jambhala Kuning ada sebuah penyaluran jasa: harus membangkitkan bodhicitta, sesudah rejeki diperoleh, justru harus semakin membangkitkan bodhicitta. Di Taiwan ada seorang konglomerat, akhir-akhir ini adiknya meninggal dunia, konglomerat itu mengucapkan sepatah kalimat: ia akhirnya mengerti bahwa uang tidak dapat mengembalikan kesehatan; orang terkaya di Taiwan, adiknya telah meninggal dunia, istrinya juga telah meninggal dunia, orang terkaya juga tidak dapat membeli kembali nyawa orang terdekatnya.

Bebas dari Kerisauan Lewat Menaklukkan Jiwa dan Raga

Lama Lian Xu sudah lama mengabdi di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle, sejak adanya Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle, Lama Lian Xu adalah salah satu dari tiga Lama utama kita. Yang paling awal datang ke Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle adalah Lama Xuanren, kedua adalah Lama Lian Xu, ketiga adalah Lama Jiuru. Nama Dharma dari Lama Lian Xu cocok untuknya, sebab perawakannya sangat kurus, ia tidak bisa gemuk. (hadirin tertawa)
Nama Lama Xuanren juga sangat bagus, kita menyebutnya xianren (dewa), dewa yang ada di kayangan. Tapi dewa di kayangan juga sering membunyikan guntur, ia termasuk reinkarnasi dari dewa guntur. Bila dewa guntur sudah membunyikan guntur, orang di sekitarnya tidak akan betah. Tapi dia adalah kakak tertua, semua orang harus lebih menghormatinya. Sementara Lama Lian Xu, Anda lihat tubuhnya yang kurus, kadang-kadang kalau bercanda ia mirip dengan Sun Go Kong, lumayan juga. Tapi emosi Sun Go Kong sangat labil. Mahaguru berharap Lian Xu alias Sun Go Kong, tubuh Anda sudah sangat kurus, Anda harus berlatih berlapang dada dan bertubuh gemuk, jangan terlalu memperhatikan hal-hal detil, jangan terlalu tegang, maklumilah semua orang. Lama di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle kurang adanya kesetaraan. Tapi semua sudah lumayan, mereka sudah menyumbang banyak tenaga di sini, mereka melakukan tugas mereka dengan serius. (Hadirin tepuk tangan)
Hari ini Lama Lian Xu berceramah tentang Menaklukkan Jiwa dan Raga, Mahaguru juga mau berceramah tentang Menaklukkan Jiwa dan Raga. Sifat seseorang sulit sekali diubah, sebuah pepatah mengatakan: sungai dan gunung mudah diubah, namun tidak dengan sifat manusia. Di dalam perkumpulan Sangha, Lama dan Lamani harus belajar bersabar, jangan menimbulkan gara-gara, kalian harus saling belajar bersabar. Jangan marah, jangan emosi, karena marah dan emosi akan mempengaruhi peredaran darah seorang sadhaka, sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi, pusing, bahkan stroke, kemudian meninggal dunia. Pikirkanlah hidup dan kesehatan Anda sendiri, jadi Anda semua jangan marah-marah, tenangkan hati dan emosi Anda, ini adalah hal-hal yang mendasar.
Lama Lian Xu sempat menyebutkan bahwa para insan mempunyai kerisauan, memang benar. Jalan pembebasan yang dikemukan oleh Sang Buddha bertujuan untuk membebaskan para insan dari kerisauan. Jika kerisauan Anda telah hilang, Anda pun mencapai pembebasan. Bila Anda masih memiliki kerisauan, artinya Anda belum mencapai pembebasan. Anda harus pahami kalimat yang pernah diucapkan oleh patriak Zen: dua ekor sapi lumpur saling beradu, kemudian keduanya jatuh ke dalam laut, hingga sekarang tidak ada kabarnya lagi.
Tahun depan, tahun 2008 akan diselenggarakan pertandingan Olimpiade di Beijing, China. Semua atlet terkemuka dari seluruh dunia akan berkumpul di sana untuk beradu kemampuan fisik, tujuan utama mereka adalah memperoleh medali emas.
Tahukah kalian bahwa mereka sungguh berlatih gila-gilaan, tanpa dibekali latihan selama 10 atau 20 tahun, mereka tidak mungkin meraih piagam emas tersebut. Ketika mereka meraih piagam emas tersebut, kesannya dunia ini seakan-akan miliknya. Kecemerlangannya menerangi seluruh jagat, popularitasnya mendunia. Bila berhasil meraih medali emas ibarat naga yang terbang ke langit, bila tidak berhasil seakan-akan berubah menjadi seekor ulat. Karena medali emas inilah, namanya menjadi populer di seluruh dunia.
Hari ini kita sebagai sadhaka yang melatih diri, asal tahu saja, prinsipnya sama saja. Tanpa dibekali latihan selama 10 atau 20 atau 30 tahun bahkan seumur hidup, Anda tak akan memperoleh pembebasan. Apakah pembebasan begitu mudah diperoleh? Mahaguru beritahu kalian bahwa masyarakat ibarat sebuah tempayan asinan yang besar, kebudayaan tempayan asinan bangsa Korea sangat hebat. Mereka memasukkan benda apa saja, seperti sayuran, semuanya dimasukkan ke dalam tempayan asinan, tak lama kemudian semuanya berubah menjadi asinan. Apa itu asinan? Yaitu sifat dan kebiasaan para insan. Kalian mengira kalian tidak akan tercemar dan tetap bersih setelah masuk ke dalam tempayan asinan, untuk berenang di dalam tempayan asinan saja sulit sekali.
Hari ini tujuan Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle berdiri di sini adalah membebaskan kerisauan semua orang dengan kebijaksanaan dari Tathagata, dengan kata lain bebas dari tempayan asinan. Suatu kesempatan yang sangat langka kalian bisa datang ke Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle! (Hadirin tepuk tangan) Hari ini kalian datang mendengarkan ceramah, pada saat ini hati kalian telah bersih. Mendengarkan Dharma di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle adalah hal yang baik, dengan mendengarkan Dharma, kerisauan kita hilang, kita juga memahami segala sesuatu di dunia ini bahwa semua hasrat materi adalah hampa. Semua barang berwujud seperti emas dan perhiasan hanya dipinjamkan untuk dipandang saja, uang untuk digunakan sementara saja, rumah untuk didiami sementara saja, mobil untuk disetir sementara saja, makanan yang telah disantap, besok sudah tidak ada lagi. Anda kira makanan yang sudah Anda makan masih ada besok atau lusa. Memang masih ada! Yang tertinggal adalah racun di dalam tubuh Anda. (hadirin tertawa)
Bumi adalah sebuah tempayan asinan. Para insan jatuh ke dalam tempayan asinan, sehingga tercemar oleh zat warna, bahan-bahan asinan, dan Anda pun tidak bisa bebas darinya. Jadi di dalam ajaran Tantra terdapat ritual abhiseka, diabhiseka bersarana berarti membersihkan perbuatan, ucapan, dan pikiran Anda dengan air bersih. Ibarat mengeluarkan Anda dari dalam tempayan asinan, kemudian membersihkannya dengan air, agar hakikatnya kembali seperti semula, dengan kata lain memunculkan Buddhata yang sebenarnya, kembali menjadi sangat bersih dan tidak tercemar lagi. Hari ini tujuan Anda semua datang belajar Buddhadharma supaya tidak tercemar lagi, tidak ada kerisauan lagi, kita harus menerapkan kebijaksanaan untuk memperoleh kebijaksanaan Tathagata. Anda semua harus tahu, mengapa seseorang dapat mencapai tingkat bodhisattva karena tidak dapat apa-apa. Anda harus paham, karena tidak dapat apa-apa, seorang sadhaka baru tidak akan memohon apa-apa, maka berkah akan datang dengan sendirinya. Bila berkah sudah datang dengan sendirinya, apa lagi yang masih Anda kejar? Karena Anda sudah bersih, dengan sendirinya Anda dapat pergi ke Sukhavatiloka Barat, ke Buddhaloka yang bersih, Anda bisa tiba di alam suci tanpa Anda kejar; bila seorang sadhaka fokus melafalkan nama Buddha dan bermeditasi, hati yang terang pun muncul, dengan sendirinya Anda akan tiba di Buddhaloka yang bersih.
Baik orang yang terkaya atau termiskin atau yang berdiri di tengah-tengah pun mempunyai kerisauan tersendiri. Cara terbaik untuk menyingkirkan kerisauan adalah memperoleh kebijaksanaan Tathagata, menyingkirkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan sadhaka, serta menyingkirkan kegelapan batin, obsesi, dan pandangan sesat.
Karena masyarakat adalah sebuah tempayan asinan, sifat dan kebiasaan para insan sulit sekali diubah. Namun sadhaka harus bersadhana dengan sebaik-baiknya untuk membersihkan sifat dan kebiasaan yang bertumpuk selama turun temurun. Ada sebuah lelucon mengenai sifat dan kebiasaan yang diceritakan oleh Sdri. Chen Chuan-fang: di atas gunung ada seorang peternak babi, di bawah gunung juga ada seorang peternak babi. Babi di atas gunung adalah babi betina, babi di bawah gunung adalah babi jantan. Suatu hari peternak babi di atas gunung menulis surat kepada peternak babi di bawah gunung, saya harap babi jantan Anda bisa pergi ke atas gunung untuk dikawinkan dengan babi betina, lalu babi-babi kecil yang dilahirkan oleh babi betina akan kita bagi rata. Peternak babi di bawah gunung merasa ini ide yang cemerlang, ia punya babi betina, sementara saya punya babi jantan! Lalu peternak babi di bawah gunung pun mendorong babinya dengan kereta sampai ke atas gunung, lalu urusan pun beres.
Keesokan harinya, peternak babi di atas gunung menulis lagi sepucuk surat kepada peternak babi di bawah gunung, sekali sepertinya kurang, kegagalan bisa saja terjadi, jadi saya harap babi jantan Anda dapat dibawa ke atas gunung sekali lagi. Setelah melalui dua kali kunjungan, lusa paginya, begitu si peternak babi di bawah gunung membuka pintu pagi-pagi, ia melihat babi jantan duduk di atas kereta, tertawa sipit. Ia mungkin mengira hari ketiga masih mau naik gunung lagi. (hadirin tertawa) Inilah sifat dan kebiasaan!

Jangan Menggeluti Usaha yang Berhubungan dengan Pejagalan, Prostitusi, dan Perjudian

Setelah manusia di dunia Saha tercemar oleh berbagai sifat dan kebiasaan, mereka sulit sekali mengubah sifat dan kebiasaan mereka lagi. Ada tiga jenis profesi yang sama sekali tidak boleh digeluti oleh seorang sadhaka, pertama adalah pembunuhan atau pejagalan, kedua adalah prostitusi, ketiga adalah perjudian. Seorang sadhaka perumahtangga lebih baik menghindari ketiga jenis profesi ini. Sebab ketiga jenis profesi ini mudah sekali menyebabkan sifat dan kebiasaan yang tidak baik dari orang lain itu keluar.
Hari ini Anda semua dapat bersadhana bersama-sama di Vihara Ling Shen Ching Tze Seattle, ini adalah kesempatan yang sangat langka, apalagi bila Anda konsisten bersadhana dan menjapa mantra, Anda dapat menenangkan pikiran Anda dan berkonsentrasi, bila kebiasaan seperti ini diasah terus selama 10 atau 20 atau 30 tahun, suatu hari nanti Anda akan meraih piagam emas. Maksud dari piagam emas adalah Anda telah memperoleh pembebasan, Anda bebas dari kerisauan, dan Anda telah memperoleh kebijaksanaan Tathagata. Melalui samadhi dan kebijaksanaan Tathagata, sadhaka membuktikan apa yang dimaksud dengan pencerahan sejati. Pada saat itu, sadhaka disebut sebagai Arya Sangha. Bila seorang sadhaka telah memahami kebijaksanaan Buddha, jalan pembebasan menuju alam suci, dan telah mencapai suatu raga yang telah memahami pikiran dan menemukan jati diri, inilah tiga tingkat spiritual dalam satu raga. Para Lama/ni adalah Arya Sangha, sebenarnya jika upasaka atau upasika perumahtangga berhasil bebas dari kerisauan, mereka sama dengan Lama/ni atau Arya Sangha. Semoga Anda semua dapat bersadhana dengan sungguh-sungguh, setiap orang berhasil meraih piagam emas. (Hadirin tepuk tangan) Om Mani Padme Hum.

Sumber : www.tbsn.org