Jumat, 16 Desember 2011

怪夢 [Mimpi Aneh] By: Sheng Yen Lu







一名男士,神色憔悴,求我指點,他是「孟祥于」先生。

孟先生說:「數年來,我每晚入睡,全部怪夢連連,從未有一日停止過,因此,整得我醒來,全身疲憊,精神非常萎靡,有睡等於沒睡,愈睡精神愈差,我實在受不了了,都快精神崩潰了,求求盧師尊,務必救我一命,拜託!拜託!」

我問:「你做什麼夢?」

孟先生答:「與人打架,被打死;與蛇纏鬥,被蛇咬死;在戰場上,被箭射死;被熊追,跌落懸崖而死;與鬼打鬥,被鬼捏死;走投無路,自縊而死。……」

我說:「我幫你做替身法。」

我用一紙人,書上姓名八字,呵氣三口,要「孟祥于」於「除日」午後,面向北方(北斗七星)處,以紙金燒化,便可除去怪夢。

我說:「作法一完,怪夢立止。」我又說:「從今而後,夜晚睡眠一覺到天亮,沒有怪夢了,如果有夢,也是好夢。」

他大喜。

隔了不久,孟祥于回來找我,說:「盧師尊,你真是神人也,實在有夠準,竟然怪夢全沒了,果然一覺到天亮,這是怎麼一回事?」

我說:「你這是沖犯『死神』。」

每一個人沖犯煞氣,是很難解釋得清清楚楚,總之沖犯就是沖犯。

沖犯不一定是外來的。

而是由自己的一念而起,所謂「一念動」,吉凶才外起。跟著人身之內「金木水火土」,也就是「心、肝、脾、肺、腎」全部起變化,這種變化,錯綜複雜,也影響到人的腦波。

腦波一搗亂,就怪夢連連無休無止了,所謂「念一動」氣就動,氣動腦波動,沖犯也就是自己念頭引起的。

我們修行人修的是:「一念不起」。

「天心寂寂」。

這是非常困難的一件事。

所以一般人全在「有為法」之中,而修行人要修「無為法」。

「無為法」是:「念起而不為所動」,「一心不亂」,不跟著「心念」而轉,也就是「知止而後有定,定而後能靜,靜而後能安。」

不能「一心不亂」,就亂糟糟了!

我告訴孟祥于先生:你連連怪夢,是氣脈全亂了,等於腦波全亂了,是死煞。

剪紙人、寫八字、代表了你的精氣神。

北斗七星處是主死的。

(把死煞送到死方)

南斗六星是主生的。

死煞一死。

孟祥于的腦波才能恢復正常。除日午後,正是除去死煞也。

我實實在在的告訴大家,我們打坐,修的這個禪定,不是要看境界出現,因為境界出現,如果隨之而動,動就迷惑了。

很容易「走火入魔」的。

Seorang pria, tampak kuyu, memohon petunjuk saya, ia adalah Bapak Xiang-yu Meng.

Bapak Meng berkata, "Beberapa tahun terakhir, setiap malam saya terus-menerus bermimpi aneh, tidak pernah berhenti sehari pun, sehingga, membuat saya terbangun, sekujur badan saya lelah, tidak bersemangat, tidur namun seperti tidak tidur, semakin tidur, semangat semakin menurun, saya sungguh tidak tahan lagi, saya hampir ambruk, mohon Mahaguru Lu, Anda harus tolong nyawa saya, tolong! Tolong!"

Saya bertanya, "Anda mimpi apa?"

Bapak Meng menjawab, "Berkelahi dengan orang lain, mati dipukul; bertarung dengan ular, mati digigit; di medan perang, mati dipanah; dikejar beruang, jatuh ke jurang dan mati; bertarung dengan hantu, mati dijerat hantu; bertemu jalan buntu, mati gantung diri. .... "

Saya berkata, "Saya bantu Anda menjalankan sadhana tubuh pengganti."

Saya menggunakan selembar orang-orangan kertas, di atasnya ditulis nama dan 8 data kelahiran, mengembuskan napas 3 kali, saya minta Xiang-yu Meng membakarnya bersama kertas sembahyang pada Hari Basmi (Chu-ri) di atas jam 1 siang, menghadap utara (7 bintang utara), mimpi buruk pun akan sirna.

Saya berkata, "Sehabis melakukan ritual, mimpi buruk langsung berhenti." Saya melanjutkan, "Mulai malam ini, Anda akan tidur nyenyak sampai langit terang, tidak ada mimpi aneh lagi, kalau bermimpi pun pasti mimpi indah."

Ia gembira sekali.

Tak lama kemudian, Xiang-yu Meng kembali mencari saya, berkata, "Mahaguru Lu, Anda benar-benar orang sakti, tepat sekali, tak disangka mimpi aneh pun hilang semua, ternyata, begitu tidur sampai pagi, mengapa bisa demikian?"

Saya berkata, "Anda kerasukan Dewa Kematian."

Seorang yang kerasukan hawa negatif, sulit sekali dijelaskan, pokoknya kerasukan ya kerasukan.

Kerasukan belum tentu berasal dari luar.

Melainkan timbul dari satu pikiran kita, yang namanya "satu pikiran bergerak", mujur-malang baru timbul dari luar. Mengikuti elemen "logam, kayu, air, api, tanah" dalam tubuh manusia, dengan kata lain, "jantung, hati, limpa, paru-paru, ginjal" semuanya berubah, perubahan demikian, rumit sekali, juga mempengaruhi gelombang otak manusia.

Begitu gelombang otak bermasalah, maka terus-menerus mengalami mimpi buruk tanpa henti, yang namanya "satu pikiran bergerak", prana pun bergerak, prana bergerak, gelombang otak pun bergerak, kerasukan juga disebabkan oleh pikiran sendiri.

Yang kita sadhaka tekuni adalah: "tidak timbul satu pikiran pun".

"Kening hening".

Ini sangat sulit.

Oleh karena itu, kebanyakan manusia berada di dalam "Dharma berkondisi", sedangkan sadhaka harus melatih "Dharma tak berkondisi".

"Dharma tak berkondisi" adalah: "Pikiran timbul namun tidak goyah", "satu hati tidak galau", tidak terbawa oleh "pikiran", dengan kata lain, "Stabil setelah mengerti untuk menghentikan, setelah stabil baru bisa tenang, setelah tenang baru bisa tenteram."

Jika kita tidak mampu "satu hati tidak galau", maka kacau balau!

Saya beritahu Bapak Xiang-yu Meng: Anda terus-menerus bermimpi aneh, karena prana dan nadi kacau-balau, gelombang otak pun demikian, kacau-balau, itulah hawa kematian.

Menggunting orang-orangan kertas, menulis 8 data kelahiran, melambangkan energi vital, prana, dan kesadaran Anda.

Posisi tujuh bintang utara adalah penguasa kematian.

(Mengantarkan hawa kematian ke posisi kematian)

Enam bintang selatan adalah penguasa kehidupan.

Sekali hawa kematian binasa.

Gelombang otak Xiang-yu Meng baru dapat kembali normal. Hari Basmi (Chu-ri) di atas jam 1 siang, justru untuk membasmi hawa kematian.

Saya sejujurnya memberitahu Anda semua, kita bermeditasi, melatih samadhi, bukan untuk melihat manifestasi alam, karena jika bergerak mengikuti manifestasi alam, maka kita akan bingung.

Kita pun mudah sekali "kerasukan mara".


buku ke : 225{Betapa Tepatnya Ramalan Jitu}
書: {225_神算有夠準}

"中陰身宜處之地" - 莲生活佛/真佛报-真佛论剑专栏 ¤ Tempat bernaung terbaik untuk tubuh bardo ¤


"中陰身宜處之地" - 莲生活佛/真佛报-真佛论剑专栏
¤ Tempat bernaung terbaik untuk tubuh bardo ¤
oleh : Maha Guru Lian Sheng Huo Fo
Koran Zhenfo Bao - Rubrik 'Pedang Komentar Satya Buddha'

Saya melihat dengan 「divya-caksu (mata dewa)」, kebanyakan tubuh bardo (makhluk halus) dikarenakan hembusan 「angin karma」, lebih banyak yang mengembara tak mempunyai tempat tinggal tetap. Seperti helai bulu yang diterbangkan angin , atau seperti kuda liar yang berlari gila-gilaan , ibarat anak kecil yang kehilangan ibundanya lantas bernaung kesana kemari.

Ada tubuh bardo yang dikarenakan hati tidak bertuan , ibaratnya seperti pengembara, pergi berkelana kesana kemari , kondisi demikian menerbitkan iba!

Tubuh bardo berkomat-kamit sendiri :
「Apa yang sedang terjadi ini?」
「Saya sebenarnya ada dimana?」
「Mengapa berubah menjadi begini?」
「Tak ada pagi , tak ada malam , sepanjang hari langit sedemikian suram kelabu , ini sebenarnya tempat apa?!」
Ketika tubuh bardo melihat 「jasad」 diri sendiri terbaring di rumah sakit , baru tersentak : 「saya ini telah mati!」
Tubuh bardo menangis tersedu-sedu, gundah gulana,merana , menderita.

Yang dicari pertama-tama oleh si mati :
Rumah pribadi yang ditinggali.
Kerabat saudara pribadi.
Tempat kerja pribadi semasa hidup di dunia.
Benda perabotan kegemaran diri pribadi.
Akan tetapi , si mati ini akan menyadari , semua orang tidak bisa melihat dirinya , tidak bisa mendengarnya. Rumah tinggal, tempat kerja , benda perabotan kegemaran kesemuanya bukan miliknya lagi, si mati menjadi tiada tempat untuk menaungi badan.

Namun, si mati juga merasakan , tubuh bardo memiliki sejenis daya kekuatan.
Unsur kasar yang tidak serupa dengan tubuh daging semula , mampu pergi sesuai niat tanpa aral , malahan mampu 「melangkah dewa」. Menembus bebatuan, tanah, rumah dan bahkan gunung sungai , tanpa hambatan, selain ke 「tempat suci」, bisa sesuka hati bergerak tanpa rintangan.
Sekali dipikirkan langsung tiba.
Sekali berniat langsung datang.
Bisa melihat 「tubuh bardo lain」.
「Makhluk sejenis」 bisa ditampaki.
Saya sering menuturkan : 「Tiap benda berbaur dengan sejenisnya」.

Jika tubuh Bardo mempunyai divya-caksu yang suci , juga bisa melihat dewa loka, melihat dewata langit. Namun tubuh bardo yang kondisi spiritnya tercerai-berai lebih banyak , mereka hanya bisa berkumpul di dunia Saha , ataupun tempat yang lebih buruk.

Asalkan satu hati menekuni bhavana , satu hati menjapa nama Buddha dan japa mantra , Yidam Buddha Bodhisattva memancarkan cahaya menjemput , maka selekasnya akan tiba di Buddha Loka.

Ataupun , anda boleh pergi ke pagoda Buddha , seharusnya mengetahui dimana ada Pagoda disitu ada Buddha , Pagoda adalah suatu bentuk bangunan tinggi lancip , tentu saja ada berbagai macam Pagoda, ada pagoda 6 tingkat , pagoda 7 tingkat, pagoda 10 tingkat , ada lagi pagoda sarira , dan pagoda non-sarira, setelah Buddha parinirvana pada periode ke-4 dalam 500 ratus tahun , adalah masa dimulainya pendirian vihara dan pembuatan pagoda. Pada pagoda sarira ataupun pagoda non sarira , pasti ada dewa pelindung dari para Arya , dewa pelindung melihat tubuh bardo dari sadhaka Zhenfo Zong , bisa menjemput anda terseberangkan ke Buddha loka yang suci.

Saya berpendapat begini , anda semua beranggapan 「sadhana bersama di Vihara」 itu tidak penting , menganggap 「sadhana bersama di Cetya」 itu tidak penting, 「tempat perkumpulan kebhaktian」 tidak penting , ketika tiba di masa berwujud tubuh bardo , anda baru akan mengetahui. Sepanjang ritus sadhana bersama (thung xiu) , terdapat didalamnya kekuatan hati dan pikiran yang manunggal secara bersama-sama , daya kekuatan hati dan pikiran semacam ini adalah kekuatan penarik yang sangat bagus , satu sadhana yang sempurna adalah penekunan bersandarkan tata cara Dharma Tantra , tiada kemelekatan terhadap segala sesuatu , sebagaimana japa nama Buddha, japa 108 kali mantra , japa ‘sanshiliuwanyi-yishiyiwan
-jiuqianwubai tong ming tong hao Amitofo’(36 trilyun 119 ribu 500 nama Buddha Amitabha), menjapa satu nama Buddha , serupa dengan menjapa segenap Buddha, menekuni satu sadhana serupa menekuni pintu Dharma tak terhingga.
Terlahirkan di Buddha loka Sukhavati , serupa terlahirkan di berbagai Ksetra (tanah suci) para Buddha.

Tubuh bardo bersandarkan daya kekuatan sadhana bersama , daya kekuatan penekunan sadhana saudara-saudari seDharma , dalam seketika ditarik masuk ke dalam Buddha loka ksetra , untuk itu sadhana bersama di Vihara, Cetya, di tempat perkumpulan kebhaktian sangatlah penting.

Saya sering mengatakan :

「Sadhana Catur Prayoga」 sangat penting untuk semua murid , ini adalah Maha Dharma.
「Sadhana Catur Prayoga」 adalah menekuni hati Vajra yang solid, yang merupakan hati agung Bodhisattva , hati agung Bodhisattva itu kokoh dan tak akan rusak , bagaikan Vajra. (tidak takut dihujat)
「Sadhana Catur Prayoga」 hendaknya menekuni sadhana Vajracitta Bodhisattva , pada 52 tingkatan Mahayana , tingkatan ke-51 adalah Bodhisattva , bergelar 「Pencerahan Setara/’Deng Jue’」. Bodhisattva pada tingkatan ini hampir serupa dengan Buddha , untuk itu digelari 「Pencerahan Setara」.
Jika kembali pada bhumi ke-sepuluh (Dharmamega-bhumi) , juga boleh dinamai sebagai Buddha.
Vajradhara, Vajracitta, Vajrasattva, merupakan pangeran Dharma Panca Buddha , merupakan saka guru dalam menyebar luaskan Dharma Tantrayana , adalah Sang Penguasa mazhab.
Sadhana bersama yang hanya menekuni 「Catur Prayoga」 saja , sudah tidak enteng!
Vajracitta Bodhisattva sekali menjemput.
Tubuh bardo seketika tiba di Buddha-ksetra , seketika terbebaskan.
Sadhana bersama itu penting , sangat teramat penting.

terjemahan oleh : Lianhua Feng-Li.

Jodoh Karma Yang Bersifat Negatif (Ceramah Dharma Lian Shen Rinpoche pada 4 Desember 1990)

 
Jodoh Karma Yang Bersifat Negatif
(Ceramah Dharma Lian Shen Rinpoche pada 4 Desember 1990)

Apakah anda tahu nama nama Mara yang ada di alam nafsu (Kamadhatu) maupun alam Rupadhatu?

Kebanyakan Budhis mengutuk mereka, mendiskriminasi mereka, dan tidak mau bersangkut paut dengan mereka. Satu satu nya orang yang mau berhubungan baik dengan Mara adalah Nichiren Daishonin yang memberi hormat kepada semua Mara di berbagai surga. Nichiren Shoshu, aliran yang didirikan oleh Nichiren Daishonin, masih hidup dengan subur di dunia ini, dan saya tidak mau berkomentar tentang pencapaian mereka. Tapi, menurut pendapat saya, diantara para sadhaka Jepang sejak masa lalu sampai sekarang, Nichiren Daishonin sungguh seorang yang telah cerah. Saya menganggap beliau sebagai orang yang telah mencapai keberhasilan karena beliau tahu memberi hormat kepada para Mara. Ini terbukti dari fakta bahwa para Mara dipuja/dialtarkan dalam Gonhonshon dan Mandala dari aliran Nichiren.

Sakyamuni Budha suatu kali berkata, "Adalah baik bila anda dikelilingi oleh Mara, bagaikan awan awan merah yang memanggul bulan". Dengan kata lain, kita perlu daun daun hijau untuk menjadi kontras dengan bunga merah. Tanpa daun daun hijau, bunga merah itu tidak dapat menunjukkan kecantikannya. Dengan alasan yang sama, seorang Budha harus ditemani oleh Mara. Ini disebut "Jodoh Karma Yang Bersifat Negatif". Bagaimana kita membuktikan bahwa rumput itu kuat? Tanpa angin kencang, daya tahan nya tidak dapat diuji. Jadi para sadhaka janganlah mengabaikan Mara. Sadhaka harus menghormati dan memberi hormat kepada Mara. Bila Mara berada di sekitar kita, anda mempunyai kesempatan yang baik untuk mencapai kebudhaan. Bila mereka tidak mengganggu anda, tingkat pencapaian anda pasti masih rendah seperti seorang anak kecil di TK.

Sesungguhnya, bila Mara meludah kepada anda, anda akan tenggelam. Bila mereka kencing diatas anda, anda akan mati. Itu sebabnya Sakyamuni Budha menyebut ini sebagai "karma jodoh yang bersifat negatif". Jadi, adalah salah bagi sadhaka untuk membenci mereka, mendiskriminasi mereka, dan menjaga jarak dengan mereka. Bulan baru dapat menunjukkan kecantikan nya bila dikelilingi oleh awan awan di sekelilingnya untuk memberikan kontras. Nichiren Daishonin adalah orang besar di dunia ini karena ia adalah orang yang tahu menghormati Mara.

Kita harus menghargai "jodoh karma yang bersifat negatif" ini. Bukan hanya Budha membicarakannya, bahkan Alkitab Kristen pun menyebutkannya. Ada sebuah kitab di Alkitab Kristen (Catatan: Kitab Ayub di Perjanjian Lama) menceritakan: Suatu hari, setan pergi menemui Allah dan berkata, "Allah, Kau adalah maha besar, tapi semua pengikut Mu pasti gagal dalam menghadapi ujian dari saya." Allah menjawab, "Baiklah kalau demikian. Saya akan memilih seseorang untuk kau uji." Pilihan Allah jatuh pada orang yang bernama Ayub. Allah berkata, "Saya mau kau menguji iman nya kepada Saya." Setan benar benar menguji Ayub secara berat.

Sewaktu Ayub berdoa untuk panen yang baik, bencana kelaparan yang datang. Namun, iman nya tidak berkurang. Ia berkata bahwa ini bukan salah Allah karena ia tidak cukup berbakti. Karena itu, ia malah menjadi lebih berbakti lagi. Lalu ada banjir yang berkepanjangan sehingga ia tidak dapat panen sepanjang tahun, tapi lagi lagi ia menyalakan diri sendiri saja. Akhirnya, putra nya meninggal karena sakit. Menurut perkiraan si Setan, Ayub pasti kehilangan iman nya pada Allah setelah putra nya meninggal. Tapi sungguh mengejutkan si setan bahwa Ayub tidak kehilangan iman nya. Ia masih tetap berdoa dan beriman teguh. Akhirnya setan harus mengaku kalah. Karena kematian putra Ayub merupakan tindakan paling kejam dalam hidup dimana kebanyakan orang akan kehilangan iman. Menurut Alkitab Kristen, sewaktu setan (iblis) menggunakan "jodoh yang bersifat negatif" terhadap Ayub, ini justru mempercepat keberhasilan rohani Ayub. Bahkan Ayub naik ke surga dan berjumpa dengan putra nya. Di mata Allah, kehidupan dan kematian bukanlah hal penting. Itu hanya berlaku pada manusia. Allah mempunyai hidup yang kekal.

Mara sesungguhnya adalah tubuh jelmaan dari Bodhisattva tingkat tinggi. Tugas mereka adalah mempunyai "ikatan jodoh karma yang bersifat negatif" dengan para sadhaka. Jadi, bila anda mendapatkan ujian tersebut, anda seharusnya bersyukur dan bergembira. Dalam Tantrayana, ada puji pujian untuk Mara. Anda tahu bahwa bentuk bulan itu bulat karena sempurna. Bila anda hanya berurusan dengan Budha dan tidak dengan Mara, pencapaian anda hanya setengah sempurna, tidak akan pernah bulat karena Mara merupakan setengah dari bulatan itu.

Bila anda berkata, "Saya hanya mau menghormati Budha dan tidak mau menghormati Mara", maka pencapaian anda maksimal adalah setengah lingkaran. Untuk menjadi sempurna, kita harus dapat lulus ujian dari Mara.

Kita tidak boleh membenci atau merasa terganggu oleh ikatan jodoh yang bersifat negatif. Kita harus dapat mengatasinya dan bergembira. Saya tidak tahu bagaimana orang akan menanggapi komentar saya ini, tapi ini adalah yang dilakukan oleh seorang yang benar benar telah mencapai pencerahan.

Om Mani Padme Hum.

Rabu, 14 Desember 2011

蓮生活佛 第225冊新書──新聞 : 《神算有夠準》 ¤ Bedah Buku Baru Buddha Hidup Lian Sheng ke-225 ¤ ※ BETAPA TEPATNYA RAMALAN JITU ※




蓮生活佛 第225冊新書──新聞 : 《神算有夠準》
¤ Bedah Buku Baru Buddha Hidup Lian Sheng ke-225 ¤
※ BETAPA TEPATNYA RAMALAN JITU ※

translation by : Minarto Yang Ying Min

Minggu, 4 Desember 2011 pukul 3 sore, penulis Dharmaraja Buddha Hidup Lian Sheng Sheng-yen Lu kembali hadir di galeri Buddha Hidup Lian Sheng, Pusat Operasional Daden, Dashing, Dapin Taiwan di Wufeng, Taiwan, aktif mengadakan belah buku baru Buddha Hidup Lian Sheng ke-225 "Betapa Tepatnya Ramalan Jitu".

Pada hari itu umat datang berbondong-bondong, Daden Culture selain mempromosikan buku baru, juga ada promosi beli 5 gratis 1 buku lama, banyak orang pulang dengan hasil yang memuaskan, berseru ketagihan. Dapin juga mempromosikan rangkaian dupa Xiangyun, mengundang Mahaguru memberkati.

Tim CTI TV bekerjasama dengan galeri, dengan pembawa acara Jia-qi Zhang, di tempat acara juga mengundang Acarya Lianhua Lezhi, Lama Lianyan, Sdr. Li-ren Lin, dan Sdr. Zheng-wu Huang untuk berbincang bersama.

Sebelum bincang-bincang dimulai, Ji-zhun Li, Hui-xiang Li, Ze-yi Li yang sebelumnya sempat ikut acara, memohon bersarana, Mahaguru Buddha Hidup Lian Sheng langsung menjamah kepala memberkati memberikan abhiseka sarana. Zhun-ji Li adalah penyiar berita terkenal di Zishen Taiwan.

APAKAH DAYA GAIB ITU?

Isi perbincangan sangat menarik perhatian orang, orang biasa sangat penasaran dengan daya gaib, sedangkan, Buddha Hidup Lian Sheng pada buku ke-225 BETAPA TEPATNYA RAMALAN JITU, memberitahu kita semua sebuah rahasia, yaitu ketika gelombang otak manusia bisa kontak dengan dewa, dengan kata lain, terhubung dengan alam semesta, maka timbullah "daya gaib".

Buddha Hidup Lian Sheng berkata, "Letak perbedaan antara daya gaib dan meramal nasib, daya gaib tergolong kontak antara spiritual diri sendiri dan roh Buddha Bodhisattva, di dalam Tantra disebut kontak yoga. Selebihnya seperti 8 data kelahiran, nama, fengshui, geografi, perbintangan, semua bukan lingkup daya gaib, kecuali ia menggunakan cara meramal nasib, juga mampu komunikasi dengan dewa, itu baru disebut daya gaib."

"Ramalan nasib juga suatu logika, tidak seharusnya mengatakan ramalan nasib itu tahayul. Kecuali si peramal adalah seorang pengamen, Anda percaya padanya berarti tahayul. Jika ada ordonansi, ada aturan, ada metode ilmiah, menggunakan logika, tidak seharusnya dianggap tahayul."

"Banyak orang menganggap ramalan nasib adalah "tidak bertanya pada orang biasa, bertanya pada makhluk halus"! Sebenarnya manusia memang memiliki takdir, pertama takdir, kedua nasib, ketiga fengshui, semuanya jangan diingkari, karena peradaban zaman kuno, banyak berasal dari I Ching dan ilmu-ilmu sosial. Meramal nasib tidak boleh dikatakan semuanya adalah tahayul. Namun, kita tidak fanatik pada daya gaib, tidak fanatik pada cenayang, juga tidak fanatik pada ramalan jitu."

Acarya Lezhi merespon, "Saat manusia tidak ada sandaran secara spiritual, akan meminta tolong pada makhluk halus, orang biasa meminjam makhluk halus untuk membingungkan insan, namun, segala sesuatu ada sebab akibatnya. Ramalan jitu Mahaguru adalah daya gaib Buddha, bagi saya, yang saya gunakan hanya cara kemudahan, yang terpenting adalah menuntun insan belajar Buddha."

Buddha Hidup Lian Sheng berkata, "Sang Buddha sendiri tidak menganjurkan ramalan nasib, karena takdir sudah ditentukan, diramal bagaimana pun takdir tetap takdir. Maksud Sang Buddha adalah, kita jangan hiraukan masalah takdir, asalkan melatih diri berdasarkan ajaran Sang Buddha, dengan sendirinya nasib bisa diubah. Yang terpenting adalah Buddhadharma itu sendiri dapat mengubah nasib, hanya menggunakan cara-cara duniawi, Anda tidak dapat mengubah nasib, kecuali menggunakan cara-cara non duniawi, Anda baru dapat mengubah nasib."

Lama Lianyan yang dulu suka sekali diramal nasibnya merespon, "Zaman masih sekolah bahkan membawa teman-teman pergi diramal, namun, nasib saya, justru tidak berhasil diramal oleh seorang peramal pun. Sejak bersarana, saya mulai memahami apa itu melatih diri, melakukan apapun tidak perlu lagi berkonsultasi, hanya memohon pemberkatan, yakni sebuah keyakinan yang murni, setelah melewati banyak kejadian, setiap rintangan pun dilewati dengan penuh keyakinan dan ketekunan."

SIAPA SAJA BISA DISELAMATKAN? SIAPA SAJA TIDAK BISA DISELAMATKAN?

Pembawa acara bertanya, "Di dalam buku, Mahaguru menolong seorang umat Kristen dari tempat Raja Yama, ia adalah teman dari umat kita. Apakah Mahaguru akan keberatan jika orang yang diselamatkan bukan murid Zhenfo Zong? Bagaimana menentukan siapa saja yang bisa diselamatkan, siapa saja yang tidak bisa diselamatkan? Mengapa?

Buddha Hidup Lian Sheng, "Poin pertama, dalam aspek agama, Katolik, Kristen, Islam, Ortodoks, Buddha, ..... agama apapun adalah manusia, semua harus diselamatkan. Yang namanya menyeberangkan semua insan itu tidak membeda-bedakan, dalam posisi saya belajar Buddha, saya sama sekali tidak membeda-bedakan para insan, asalkan bisa diselamatkan, maka harus diselamatkan."

"Suatu kali, ada sorang umat Hong Kong melayangkan surat memohon penyeberangan adiknya, saya memusatkan perhatian mengundang Buddha menjemputnya, di dalam pikiran justru muncul Bunda Maria, menjemput roh mendiang ke alam surga. Acarya Lianning segera telepon ke umat Hong Kong dan bertanya, jawabannya adalah adiknya adalah umat Katolik yang taat. Kontak yoga."

Pembawa acara bertanya, "Bagaimana saling kontak dan saling hidup berdampingan dengan aliran yang berbeda?"

Buddha Hidup Lian Sheng berkata, "Aliran yang berbeda, ini adalah masalah tingkatan, dengan kata lain, saat naik tangga, terus naik dari tingkat pertama, tingkat kedua, tingkat ketiga, ada tingkatannya. Tentu saja setiap agama menganggap dirinya paling besar, ini adalah psikologis manusia, bukan psikologis dari perintis aliran. Ada dewa, Tuhan, Allah, hari ini kita tidak membanding-bandingkan, karena bisa menyebabkan kontroversi. Semua dewa memiliki kekuatan, semua memiliki kekuatan."

"Kita tidak membeda-bedakan siapa bisa diselamatkan, siapa tidak bisa diselamatkan, semua insan harus diselamatkan, menurut kekuatan saya sendiri dalam menyelamatkan insan, saya justru melakukan seperti ini. Kadang-kadang orang ini tidak bisa diselamatkan, mengapa tidak bisa diselamatkan? Karena rintangan karmanya lebih berat daripada kekuatan saya menyelamatkannya, saya tidak juga berdaya menyelamatkannya."

Minarto Yang Ying Min SI BUTA TELAH MELIHAT!

Pembawa acara bertanya, "Di dalam buku ada seorang buta, Lama Lianyan memberikan tisu bekas Mahaguru menyeka mata kepadanya untuk menyeka mata, tak disangka penglihatannya kembali. Saya sangat tergugah membacanya, mengapa bisa demikian?

Buddha Hidup Lian Sheng berkata, "Seharusnya kebetulan. Suatu tahun saya di Diamond True Buddha Temple, New York, Amerika Serikat, sebelum ceramah Dharma, Lama Lianyan melihat di mata saya ada "benda", sehingga memberikan saya tisu untuk menyeka mata, sehabis menyeka saya kembalikan pada Lama, ia pun menaruh di dalam saku bajunya. Kemudian, Lama terbang kembali ke Chang Hung Temple, Panama, Amerika Tengah dan Selatan, tak disangka ada seorang buta memohon pada Lama. Lama tiba-tiba ada ilham, lalu memberikan tisu tersebut padanya untuk menyeka mata, matanya kembali melihat, sembuh. Ini seharusnya Buddha Bodhisattva membantunya, bukan saya. Suatu kebetulan, kedua adalah mata nona ini memang sudah ditakdirkan untuk sembuh. Matanya rusak karena terkena asap saat rumahnya kebakaran, ia menggendong anaknya, beberapa tahun kemudian bertemu Lama Lianyan, kebetulan! Dalam nasib, matanya akan sembuh."

Pembawa acara bertanya, "Banyak penderita sakit keras, semua diselamatkan oleh Mahaguru, apa penyebab utamanya?

Buddha Hidup berkata, "Penderita sakit keras juga harus melihat sebab dan kondisi, kebetulan bertemu baru bisa dibantu, tidak bertemu apa boleh buat. Ada seorang dokter kandungan Taiwan, mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat parah, sudah antri di tempat Raja Yama, saat namanya diabsen, dr. Wang pun menghampiri. Bertanya padanya baju apa yang sedang dikenakan, mengapa bisa bercahaya, yaitu sebuah rompi naga, jiwanya belum saatnya berakhir, sehingga menyelamatkannya kembali hidup kembali. Setelah ia mengalami kecelakaan, ada orang membawa rompi naga untuk disandangkan di tubuhnya, di alam baka pun terlhat tubuhnya bercahaya, kebetulan rompi naga itu pernah saya pakai, juga kebetulan dengan sebab dan kondisinya. Dr. Wang kembali dari alam baka dan bercerita pada saya, sehingga ada kejadian seperti ini."

"Dapat diselamatkan atau tidak justru di sini. Rompi naga yang sama ditaruh pada tubuh dokter lain, tidak dapat menyelamatkannya, justru dapat menyelamatkan dr. Wang. Rompi naga yang sama yang pernah saya kenakan, juga ada yang tidak dapat diselamatkan, masalahnya adalah karmanya terlalu berat, rompi naga saya itu juga tidak dapat menyelamatkannya."

Photo : wartawan senior 'Li Ji-Zhun' ber-Sarana dalam acara bedah buku
news & pic shared from : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150508760190042&set=a.381295930041.202189.58913545041&type=1&theater

Sabtu, 10 Desember 2011

Nasib 宿命

 
Nasib
宿命

Oleh: Buddha Hidup Liansheng Sheng-yen Lu
Sumber: Vihara Triratna

Ketika salah satu sahabat saya menikah, saya tidak menghadiri pernikahannya. Seseorang lantas bertanya pada saya, "Sheng-yen Lu, Anda tidak punya alasan untuk tidak menghadiri pernikahan sahabat Anda. Lagipula ia adalah teman sekamar, rekan sekerja, teman sehobi, dan sobat Anda. Lantas mengapa Anda tidak hadir?"

Saya hanya menjawab dengan satu kata, "Nasib!"

Banyak orang tidak mengerti alasan ketidakhadiran saya. Tiga tahun kemudian teka-teki ini pun terjawab. Sahabat saya dan istrinya bertengkar hebat karena masalah kecil. Akhirnya sahabat saya tidak tahan lagi dan membunuh istrinya dengan pisau dapur. Sementara ia sendiri juga bunuh diri. Sungguh tragis!

Kata "nasib" ini merujuk pada orang yang mengerti nasib seperti saya ini mana berani memberi selamat atas pernikahan mereka yang berarti memberi selamat pada mereka bahwa mereka bertemu dengan musuh besar.

Pada suatu kali, atasan saya dipromosikan. Ia menggelar pesta untuk merayakan kenaikan pangkatnya dan semua orang menghadirinya. Hanya saya sendiri yang tidak hadir, saya mencari alasan untuk tidak hadir.

Seseorang bertanya pada saya, "Mengapa di antara orang-orang yang memberi selamat hanya kurang Anda seorang?"

Saya juga hanya menjawab dengan satu kata, "Nasib!"

Tidak lebih dari beberapa tahun kemudian, terjadi kasus korupsi besar-besaran. Banyak yang terlibat pada waktu itu. Jika atasan saya tidak naik pangkat, sekarang ia akan baik-baik saja. Dengan kenaikan pangkatnya, ia otomatis terlibat di dalamnya. Sekali dipenjara, habislah semuanya.

Saya mana berani memberi selamat kepada atasan saya karena dengan kenaikan pangkatnya, ia justru dipenjara.

Pada suatu kali, seorang umat saya pada akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki setelah berturut-turut melahirkan lima orang anak perempuan. Umat saya ini girang bukan main.

Umat saya ini adalah keluarga berada. Pada hari di mana si bayi berusia genap sebulan, ia menggelar sebuah pesta besar dan berulang kali mengundang saya sebagai tamu kehormatan.

Saya tidak pergi dan tidak berani pergi.

Seseorang bertanya pada saya, "Pada hari yang berbahagia ini, para tamu berdatangan memberikan selamat, mengapa hanya Anda seorang saja yang tidak hadir?"

Saya menjawab, "Nasib!"

Belasan tahun kemudian, si anak meminta uang pada orang tuanya untuk membeli sebuah mobil balap mewah. Orang tuanya tidak setuju dan dianggap terlalu boros yang mengakibatkan anak dan orang tua beradu mulut.

Akhirnya si anak membantai kedua orang tuanya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang dengan sebilah golok. Lalu si anak menyerahkan diri kepada pihak berwajib sambil membawa serta goloknya.

Belasan tahun yang lalu, orang tuanya terus-menerus memohon kehadiran seorang putra, akhirnya doa mereka terkabul dengan mendapatkan seorang putra dan mereka sangat menyayangi putranya tersebut.

Satu saja permintaan dari anaknya tidak dituruti, ia justru tertimpa musibah yang tak terduga-duga, sayang sekali!

Mari kita berpikir sejenak. Bagaimana saya dapat memberi selamat kepadanya atas kelahiran putranya sementara putranya ini adalah musuh besar mereka!

Benar-benar NASIB! NASIB!

Pada suatu kali, seorang umat yang dekat dengan saya membeli seunit rumah mewah. Daun pintunya, dekorasinya, semuanya bermutu tinggi.

Pada hari perpindahan, para tamu berdatangan memberikan selamat, bahkan gubernur dan walikota pun hadir. Ia juga mengundang saya. Namun saya tidak hadir dan tidak berani hadir.

Orang lain bertanya lagi pada saya, "Umat ini sangat percaya pada Anda, mengapa Anda tidak hadir?"

Saya menjawab, "Nasib."

Sekitar 4 tahun kemudian, sebuah kebakaran besar membakar habis rumah mewah ini. Dari sepuluh orang anggota keluarga umat ini, setengahnya tewas terbakar dan selebihnya berhasil meloloskan diri.

Saya berkata pada orang lain, "Itu adalah rumah langganan Dewa Api, mana berani saya memberikan selamat, bahkan di atas papan ucapan selamat pun jangan tulis nama saya."

Seseorang pernah mengajukan pertanyaan demikian pada saya, "Bila Anda mengetahui nasib seseorang, lantas mengapa Anda tidak mencegahnya dengan mengatakan yang sebenarnya?"

Saya menjawab, "Bila saya mengatakan yang sebenarnya, berarti saya mengusir kebahagiaan mereka. Dalam suasana berbahagia, sudikah mereka mendengarkan saya? Apa daya saya bila mereka tidak percaya apa yang saya katakan!"

Seseorang berkata lagi, "Bila Anda mengetahui nasib seseorang, mengapa Anda juga sulit mengelak dari bencana Anda sendiri, apalagi bencana Anda begitu banyak!"

Saya tersenyum kecut, "Saya memang mengetahui nasib saya sendiri, namun, nasib sangat sulit dielak. Sekarang saya dapat menyepi dan bertapa pun sudah merupakan berkah yang luar biasa."

Siapa berani menyangkal manusia mempunyai nasib? Bersadhanalah dengan sungguh-sungguh, sebab hanya dengan bersadhana satu-satunya cara mengubah kemalangan menjadi kemujuran.

Buku ke - 178 : Memandang Mega dari Gunung

¤ Baca Buku dengan Tenang ¤ 安安靜靜的讀書 - 文/蓮生活佛


¤ Baca Buku dengan Tenang ¤
安安靜靜的讀書 - 文/蓮生活佛
Oleh: Buddha Hidup Liansheng Sheng-yen Lu

Saya pernah bertanya pada seorang siswa saya, "Apakah Anda baca buku?"

"Saya sangat sibuk!" jawab siswa saya.

"Apa saja kesibukan Anda?"

"Selain bekerja, saya adalah orang yang tidak bisa duduk diam di rumah, sejujurnya saya katakan pada guru bahwa sepulangnya saya ke rumah, saya akan mencari beribu alasan untuk keluar rumah lagi, biarpun hanya sekedar jalan-jalan santai saja. Dengan demikian hidup baru tidak akan membosankan."

"Oh!"

Saya merenungkan masalah siswa saya ini.

Saya bertanya pada siswa saya yang lain, "Apakah Anda baca buku?"

"Pikiran saya tidak bisa tenang!" jawab siswa saya.

"Mengapa?"

"Saya suka arisan dengan teman, saya selalu ikut kalau diajak teman, di samping ngobrol panjang lebar, saya juga suka rekreasi, mendaki gunung, pesta dansa, makan-makan, dan nonton film. Saya tidak terbiasa berdiam diri, bagiku itu sangat membosankan."

Saya bertanya lagi pada siswa saya yang lain, "Apakah Anda baca buku?"

"Saya hanya baca indeks saham!" jawab siswa saya.

"Mengapa Anda hanya baca indeks saham?"

"Ada tiga kesulitan dalam hidup: kesulitan naik ke surga, kesulitan mencari nafkah, dan kesulitan dalam hubungan antar manusia. Yang saya rasakan paling nyata adalah mencari nafkah, rencana saya setiap hari selain saham tetap saham, paling penting adalah mencari nafkah. Kalau baca buku, saya masih belum ada waktu, saya juga rasa itu menghabiskan waktu saja."

"Anda tidak baca buku Maha Guru?"

"Sebagai siswa Maha Guru, saya sudah membeli buku Maha Guru. Kadang-kadang saya membuka-buka buku, kemudian saya berikan buku tersebut kepada orang lain, boleh dikatakan berbuat pahala juga, kan."

"Anda sungguh jujur."

"Baguslah kalau Maha Guru tidak menyalahkan saya!"

Saya merenungkan jawaban dari ketiga siswa saya ini. Memang, kita semakin sulit menemukan orang zaman sekarang yang dapat meluangkan waktunya setiap hari untuk baca buku dengan tenang.

Saya merasa bahwa kesibukan orang zaman sekarang belum tentu juga tidak baik, namun setiap manusia wajib memupuk beberapa kebiasaan baik, misalnya:
1. Olahraga.
2. Komunikasi interaktif antar anggota keluarga, teman, dan kolega.
3. Relaksasi.

Setelah bertahun-tahun berdomisili di AS, saya melihat orang bule relaksasi dengan mencari sebuah panorama laut yang indah, kemudian berbaring dan berjemur matahari sambil minum segelas teh atau bir sembari baca buku.

Saya merasa bahwa baca buku adalah sebuah kebiasaan yang sangat baik. Apa salahnya pada saat luang, di bawah penerangan yang cukup, duduk dengan tenang sambil minum segelas minuman favorit kita dan dengan tenang memasuki dunia sang pengarang, barangkali ada pelajaran yang dapat dipetik dari baca buku.

Setiap hari saya wajib baca buku. Saya baca Sutra Buddhis atau buku-buku di luar dari bidang profesi tertentu.

Perlahan-lahan, kebijaksanaan saya berangsur-angsur meluas.
Saya juga sangat memahami kunci dari baca buku. Apalagi ketika batin saya menyatu dengan buku, justru saat itulah saya mempunyai pemahaman yang mendalam. Ini juga yang menjadi sumber inspirasi saya dalam menulis.

Pepatah kuno mengatakan: "Bila kita tidak baca buku tiga hari, tutur kita pun tidak berbobot lagi." Lagipula kita bisa memperoleh banyak pengetahuan dari dalam buku.

Memang, banyak orang mengalami kesulitan untuk menenangkan pikiran. Namun Anda juga boleh hanya baca beberapa halaman (artikel pendek) saja dulu, kelak Anda boleh baca artikel yang lebih panjang atau artikel yang sangat panjang. Sebenarnya saya juga tidak ingin mengimbau kepada orang-orang untuk menghabiskan satu buku dalam sekali baca, Anda boleh mencicilnya menjadi seminggu, sebulan atau beberapa bulan.

Pokoknya, dipupuk menjadi kebiasaan dan dijalankan setahap demi setahap. Ini adalah kebiasaan yang baik!

Baca buku dengan tenang pasti ada pelajaran yang dapat dipetik darinya. Bila kita dapat menenangkan pikiran kita, kita pun dapat menenangkan pikiran kita untuk bersadhana. Bukankah kita juga perlu tenang dan tidak gundah dalam menekuni suatu sadhana?

Sajak:

Dengan baca Sutra kita akan dipancari cahaya.
Dengan tenang bersadhana kita akan mencapai tujuan.
Dengan pikiran yang tenang dan tanpa kerisauan.
Baca buku atau melatih batin pun menjadi luar biasa.

Buku ke - 178 : Memandang Mega dari Gunung
Sumber : http://indonesia.tbsn.org/modules/news2/article.php?storyid=316